ANNISA MUHKLIS SABRINA, - (2026) PEMIKIRAN TAFSIR AMINA WADUD TENTANG KESETARAAN GENDER DALAM QS. AN-NISA':1 PERSPEKTIF TAFSIR KLASIK DAN KONTEMPORER. Skripsi thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.
|
Text (Bab Gabungan)
SKRIPSI ANNISA MUHKLIS SABRINA - TAMPA BAB HASIL - Annisa Muhklis Sabrina.pdf - Published Version Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (Bab Hasil)
SKRIPSI ANNISA MUHKLIS SABRINA - BAB HASIL - Annisa Muhklis Sabrina.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (499kB) |
||
|
Text (Pernyataan)
SURAT PUBLIKASI - Annisa Muhklis Sabrina.pdf - Published Version Download (438kB) | Preview |
Abstract
Isu kesetaraan gender dalam penafsiran Al-Qur'an menjadi salah satu wacana akademik yang terus berkembang, khususnya terkait frasa nafs wahidah dalam QS. An-Nisa: 1 yang menjadi titik sentral perdebatan tentang asal-usul penciptaan manusia dan pada frasa wa khalaqa minha zawjaha. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemikiran Amina Wadud tentang kesetaraan gender dalam QS. An-Nisa: 1, (2) mendeskripsikan penafsiran mufassir klasik (At-Thabari, Al-Qurthubi) dan kontemporer (Az-Zuhaili, Rasyid Ridha, dan Quraish Shihab) terhadap QS. An-Nisa: 1, serta (3) menganalisis secara kritis pemikiran Amina Wadud berdasarkan perspektif mufassir klasik dan kontemporer tersebut. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan teknik analisis deskriptif-analitis kritis terhadap teks tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amina Wadud menafsirkan nafs wahidah sebagai esensi kemanusiaan yang netral gender dan menolak narasi penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam yang dianggapnya sebagai Israiliyyat. Adapun mufassir klasik mayoritas menafsirkan nafs wahidah sebagai Adam AS dengan menerima narasi tulang rusuk berdasarkan riwayat dan hadis shahih. Di antara mufassir kontemporer, Az-Zuhaili mempertahankan penafsiran klasik dengan argumen teologis, Ridha menolak narasi tulang rusuk berdasarkan analisis historis terhadap Israiliyyat, sedangkan Quraish Shihab mengambil posisi moderat dengan mendukung penafsiran metaforis. Analisis kritis menunjukkan bahwa pemikiran Amina Wadud memiliki kekuatan dalam hal kesadaran epistemologis tentang bias penafsir dan seruan pembacaan holistik Al-Qur'an, namun lemah secara metodologis terlalu dipengaruhi kerangka feminisme Barat, mengabaikan otoritas hadis shahih, dan mengklaim secara berlebihan bahwa seluruh tafsir klasik bersifat patriarki. Kata Kunci: Nafs Wahidah, Minha Zawjaha, Amina Wadud, Kesetaraan Gender, Tafsir Klasik dan Kontemporer.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Subjects: | 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir 200 Agama |
||||||||||||
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir | ||||||||||||
| Depositing User: | Mr. doni s | ||||||||||||
| Date Deposited: | 20 May 2026 04:05 | ||||||||||||
| Last Modified: | 26 May 2026 04:33 | ||||||||||||
| URI: | http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/93672 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
