ABDUL RASYID, - (2025) FASAKH KARENA SUAMI DALAM KEADAAN I’SAR PADA ISTRI BEKERJA PERSPEKTIF TEORI MUBĀDALAH. Thesis thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.
|
Text (BAB GABUNGAN)
GABUNGAN TESIS KECUALI BAB HASIL - Abdul Rasyid.pdf - Published Version Download (4MB) | Preview |
|
|
Text (BAB HASIL)
BAB HASIL - Abdul Rasyid.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (4MB) |
||
|
Text (SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI)
PERNYATAAN PUBLIKASI - Abdul Rasyid.pdf - Published Version Download (259kB) | Preview |
Abstract
ABSTRAK Abdul Rasyid (2025) : “Fasakh Karena Suami Dalam Keadaan I’sar Pada Istri Bekerja Perspektif Teori Mubādalah” Penelitian ini mengkaji ulang konstruksi hukum Islam tentang hak fasakh dalam konteks suami yang i‟sār (tidak mampu memberi nafkah), khususnya ketika istri justru berperan sebagai pencari nafkah utama. Dengan pendekatan studi pustaka dan metode analisis kualitatif, penelitian ini berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana pandangan fikih konvensional, ulama kontemporer, dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) terhadap fasakh karena i‟sār, serta bagaimana teori mubādalah merekonstruksi makna keadilan dalam relasi suami-istri terkait hak fasakh. Hasil kajian menunjukkan bahwa fikih konvensional, meski mengakui validitas fasakh karena i‟sār, cenderung memahami nafkah secara finansial-materialistik, serta mempertahankan peran nafkah sebagai tanggung jawab eksklusif suami tanpa mempertimbangkan transformasi sosial ekonomi rumah tangga. Di sisi lain, KHI memberikan terobosan normatif melalui Pasal 136 yang memperbolehkan istri mengajukan fasakh terhadap suami yang mu„sir, dengan kelonggaran pembuktian melalui sumpah sebagai qara‟in, mengindikasikan pengakuan terhadap pengalaman perempuan sebagai bukti hukum yang sah. Sementara itu, ulama kontemporer mulai menawarkan penafsiran baru yang lebih kontekstual, dengan mempertimbangkan aspek emosional, struktural, dan relasional dari ketidakmampuan suami. Dalam kerangka ini, teori mubādalah yang dikembangkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir menyodorkan pembacaan ulang terhadap relasi rumah tangga melalui prinsip kesalingan, keadilan relasional, dan maqāṣid al-sharī„ah. I‟sār tidak lagi dipahami semata sebagai ketiadaan harta, melainkan kegagalan etis dalam memenuhi amanah pernikahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi hak fasakh melalui pendekatan mubādalah membuka horizon baru hukum keluarga Islam yang lebih humanis, kontekstual, dan berpihak pada nilai rahmah dan kemitraan. Fasakh, dalam paradigma ini, tidak hanya legalistik tetapi juga korektif, restoratif, dan relevan dengan dinamika rumah tangga modern. Kata Kunci: Fasakh, I‟sār, Fikih Konvensional, Ulama Kontemporer, Kompilasi Hukum Islam, Mubādalah, Keadilan Relasional, Hukum Keluarga Islam.
| Item Type: | Thesis (Thesis) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Subjects: | 000 Karya Umum | ||||||||||||
| Divisions: | Program Pascasarjana > S2 > Hukum Keluarga | ||||||||||||
| Depositing User: | Mr Eko Syahputra | ||||||||||||
| Date Deposited: | 15 Jul 2025 01:20 | ||||||||||||
| Last Modified: | 15 Jul 2025 01:20 | ||||||||||||
| URI: | http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/90108 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
