NUR AFIFAH BALQIS BINTI ROSLE, - (2025) STUDI KOMPARATIF PENDAPAT IMAM MALIK DAN IMAM Al-SYAFI’I TENTANG MASA SUCI DIANTARA DUA HAIDH (Al-NAQA’). Skripsi thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.
|
Text
SKRIPSI NUR AFIFAH BALQIS BINTI ROSLE.pdf Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (BAB IV)
BAB IV.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
ABSTRAK Nur Afifah Balqis Binti Rosle (2024): Studi Komperatif Pendapat Imam Malik dan Imam al-Syafi’i Tentang Masa Suci Diantara Dua Haidhh (Al- Naqa’) Penelitian ini di latarbelakangi oleh adanya perbedaan pendapat antara Imam Malik dengan Imam Al-Syafi‟i mengenai hukum al- naqa‟ dimana apabila wanita kedatangan haidhh kemudian untuk beberapa lama darah haidhnya terputus, kemudian darah haidhnya keluar lagi di antara dua masa itu dianggap masa haidh atau tidak. Imam Malik bahwa masa darah berhenti mengalir (naqa) di tengah-tengah masa haidh adalah dianggap haidh. Imam Al-Syafi‟i sebagai masa suci. Permasalahan dalam penelitian adalah, mengetahui apakah pendapat yang digunakan Imam Maliki dan Imam al-Syafi‟i mengenai masa suci diantara dua haidhh (al naqa’), apakah dalil-dalil yang digunakan Imam Maliki dan Imam al- Syafi‟i mengenai masa suci diantara dua haidhh (al naqa’) Dan mengetahui bagaimana analisa fiqh muqorran antara Imam Maliki dan Imam al-Syafi‟i tentang masa suci diantara dua haidhh (al naqa’). Jenis penelitian ini adalah hukum Islam normatif yang dilakukan dengan menggunakan metode library research yang bersifat kualitatif yaitu dengan mengklasifikasikan sesuai dengan apa yang dibahas. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber sekunder. Seterusnya menggunakan pendekatan perbandingan hukum, yaitu dengan membandingkan pendapat Imam Malik dan Imam al-Syafi‟i mengenai Hukum masa suci diantara dua Haidh (al- Naqa'). Hasil penelitian mendapatkan bahwa dalam masalah hukum masa suci diantara dua haidh, kedua-dua tokoh tersebut yaitu Imam Malik dan Imam al- Syafi‟i sama-sama teguh dengan argumen masing-masing.Penulis berpendapat bahwa pendapat Imam al-Syafi‟i lebih selamat diamalkannya pada masa kini secara umunya, karena banyak kebaikannya serta masalah ini sangat berkait rapat dengan ibadah seorang wanita. Namun penulis tetap menghormati serta menerima pendapat Imam-Imam Mazhab yang menggunakan kaidah lain dalam masalah hukum suci diantara dua haidhh ini. Kata kunci: Maliki, Al-Al-Syafi’i, suci, Haidh
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Subjects: | 000 Karya Umum | ||||||||||||
| Divisions: | Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Mazhab dan Hukum | ||||||||||||
| Depositing User: | fasih - | ||||||||||||
| Date Deposited: | 22 Apr 2025 06:41 | ||||||||||||
| Last Modified: | 22 Apr 2025 06:41 | ||||||||||||
| URI: | http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/87605 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
