HUKUM MEMANDIKAN DAN MENSHALATKAN JENAZAH YANG TERPOTONG-POTONG DAN BERCAMPUR ANTARA MUSLIM DENGAN NON MUSLIM MENURUT IMAM ABU HANIFAH

M. Kholilu Rahman, (2012) HUKUM MEMANDIKAN DAN MENSHALATKAN JENAZAH YANG TERPOTONG-POTONG DAN BERCAMPUR ANTARA MUSLIM DENGAN NON MUSLIM MENURUT IMAM ABU HANIFAH. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2012_201214AS.pdf

Download (592kB) | Preview

Abstract

Skripsi yang berjudul “HUKUM MEMANDIKAN DAN MENSHALATKAN JENAZAH YANG TERPOTONG-POTONG DAN BERCAMPUR ANTARA MUSLIM DENGAN NON MUSLIM MENURUT IMAM ABU HANIFAH”. Studi tentang pendapat Imam Abu Hanifah tentang hukum memandikan dan menshalatkan jenazah yang bercampur antara muslim dan non muslim yang sesuai dengan hukum Islam dalam kajian secara teoritis terutama dalam bidang hukum Islam (fiqh). Dalam pembahasan ini Imam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa tidak wajib dimandikan dan dishalatkan bagi jenazah yang sebagian anggota tubuhnya terpotongpotong atau hilang, kecuali kalau memang kebanyakan anggota tubuhnya atau minimal separuhnya beserta kepalanya diketemukan. Hukum ini berlaku pula bagi jenazah yang terpotong-potong dan telah bercampur baur dengan non-Muslim, namun dalam hal memandikannya beliau tetap membolehkan, meskipun tidak seperti memandikan jenazah Muslim. Jika mayat yang terpotong-potong itu tidak berbaur dengan non-Muslim dan ditemukan potongan tubuh itu separuh atau lebih dan masih berkepala, maka ia wajib dimandikan. Akan tetapi, jika tidak ditemukan separuh dari tubuhnya atau kurang atau terbelah dari atas ke bawah dan tidak berkepala, maka tidak wajib dimandikan. Namun jika ternyata telah berbaur dan tidak dapat diketahui antara yang Muslim dan non-Muslim, maka beliau menganggap tidak usah disalati tetapi masih boleh dimandikan. Imam Abu Hanifah mengatakan jika berkumpul antara yang halal dan haram, maka yang dimenangkan adalah yang haram. Adapunyang menjadi permasalahan dalam penelitian adalah Bagaimana pendapat Imam Abu Hanifah tentang memandikan dan menshalatkan jenazah yang bercampur Muslim dan Non Muslim, Mengapa Imam Abu Hanifah tidak membolehkan menshalati jenazah yang bercampur Muslim dan Non Muslim. Pembahasan dalam masalah ini merupakan salah satu kajian yang berbentuk penelitian kepustakaan (Library Research) yang bersifat Conten Analysist. Yaitu menelusuri buku-buku yang ada relevansinya dengan masalah yang dibahas, seperti Kitab “al-Mabsuth” karangan Imam Syamsuddin asy- Syarkhasi, Penerbit Daar al-Kutub al-Amaliyah Beirut Libanon, Juz II, Jilid 1-2, Bab Menerangkan Tentang memandikan dan menshalatkan jenazah. Berdasarkan analisis dari data-data tersebut, tanpa mengurangi rasa hormat atas jasa besar para ulama.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.56 Etika Moral Islam dalam Hal Tertentu
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 09 Dec 2016 02:54
Last Modified: 09 Dec 2016 02:54
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/9571

Actions (login required)

View Item View Item