KONSEP MANUSIA MENURUT JOHN DEWEY (Tahun 1859-1952)

Muzamel, (2012) KONSEP MANUSIA MENURUT JOHN DEWEY (Tahun 1859-1952). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2012_201216AF.pdf

Download (280kB) | Preview

Abstract

Filsafat Padangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, dari sisi baik atau buruk, akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain pihak, manusia manurutnya adalah yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah. Masyarakat di sekitar manusia dengan segala lembaganya, harus diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak berkembang selain berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangannya juga turut didukung oleh masyarakat yang ada disekitarnya. Konsep kunci dalam filsafat Dewey adalah pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya yang dapat dimiliki oleh manusia. Manusia tidak dapat keluar dari pengalamannya, mencoba mengatasi pengalaman ke finalitas dan asal usul absolut adalah kebodohan. Pengalaman manusia inilah yang merupakan alam semesta, yaitu alam semesta yang dialami manusia. Dengan kata lain manusia dalam dunia yang dialaminya mempunya kedudukan yang sentral. Di dalam manusialah alam semesta sadar akan dirinya. Masalah penting pertama yang Dewey buat adalah bahwa dasar-dasar budi pekerti yang tidak terpisah dari kehidupan masyarakat manusia di mana pun mereka memiliki keterikatan; Pendekatan Dewey selanjutnya memperdalam pemikiran mengenai kesusilaan (moralitas) sebagai gagasan yang dimasukkan dari luar pengalaman. Secara singkat pandangan Dewey dengan mengatakan bahwa dasar-dasar budi pekerti dari pendidikan harus dikembangkan melalui pengakuan kesusilaan (moralitas) wajib (morality of the task). Pengetahuan merupakan salah satu unsur yang penting dalam hubungan dengan pembentukan manusia untuk hidup secara lebih baik dan lebih sempurna. Manusia adalah makluk yang sadar dan mempunyai pengetahuan akan dirinya. Selain itu juga manusia juga mempunyai pengetahuan akan dunia sebagai tempat dirinya bereksistensi. Dunia yang dimaksudkan di sini adalah dunia yang mampu memberikan manusia kemudahan dan tantangan dalam hidup. Dunia di mana manusia bereksistensi dapat memberikan kepada manusia sesuatu yang berguna bagi pembentukan dan pengembangan dirinya. Pengetahuan merupakan kekayaan dan kesempurnaan bagi makhluk yang memilikinya. Manusia dapat mengetahui segala-galanya, maka ia menguasai makhluk lain yang penguasaannya terhadap pengetahuan kurang. Dalam lingkungan manusia sendiri seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik bila dibandingkan dengan yang tidak tahu apa-apa. Pengetahuan menjadikan manusia berhubungan dengan dunia dan dengan orang lain, dan itu membentuk manusia itu sendiri. Namun, pengetahuan manusia begitu kompleks.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.2 Teologi Islam, Aqaid dan Ilmu Kalam
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Aqidah
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 08 Dec 2016 08:04
Last Modified: 08 Dec 2016 08:04
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/9550

Actions (login required)

View Item View Item