FARRAS DWI MEIGA (2026) REPRESENTASI FALSAFAH ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH DALAM TRADISI BATAGAK PENGHULU DI NAGARI KOTO NAN IV KOTA PAYAKUMBUH PERSPEKTIF BUYA HAMKA. Skripsi thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.
|
Text (BAB GABUNGAN)
1. lengkap tanpa hasil faras biodata - Farras Dwi Meiga.pdf Download (4MB) | Preview |
|
|
Text (BAB HASIL)
2. bab hasil faras - Farras Dwi Meiga.pdf Restricted to Repository staff only Download (3MB) |
||
|
Text (SURAT PERNYATAAN)
IMG-20260123-WA0052 - Farras Dwi Meiga.pdf Download (123kB) | Preview |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, serta kebutuhan untuk memahami bagaimana nilai-nilai tersebut terepresentasikan dalam tradisi Batagak Penghulu di Nagari Koto Nan IV Kota Payakumbuh. Tradisi Batagak Penghulu merupakan prosesi sakral dalam sistem kepemimpinan adat Minangkabau sebagai mekanisme pengangkatan pemimpin suku. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan nilai musyawarah, amanah, dan keadilan dalam tradisi Batagak Penghulu, serta mengkaji keterkaitannnya dengan penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar sebagai wujud representasi dari falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Jenis penelitian ini adalah lapangan dan studi pustaka, menggunakan pendekatan kualitatif, dan metode penelitian deskriptif-analitis. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan Tafsir Al-Azhar, sedangkan data sekunder data tambahan yang diperoleh dari berbagai sumber literatur, seperti buku, jurnal atau artikel ilmiah, arsip adat, dokumen resmi, serta penelitian terdahulu yang relevan dengan tema dan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batagak Penghulu secara nyata mengimplementasikan nilai musyawarah yang tampak dalam proses pemilihan dan kesepakatan kaum, nilai amanah tercermin melalui tanggung jawab Penghulu terhadap anak kemenakan, serta nilai keadilan tampak melalui perannya sebagai penengah persoalan serta penjaga marwah kaum. Penafsiran Buya Hamka terhadap kedua ayat tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan praktik Batagak Penghulu, terutama dalam menegaskan bahwa kepemimpinan adat harus berlandaskan nilai-niai Islam seperti musyawarah, amanah, dan keadilan. Dengan demikian, tradisi Batagak Penghulu merupakan bentuk nyata keselarasan antara adat Minangkabau dan prinsip-prinsip ajaran Islam yang sejalan dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kata Kunci: Batagak Penghulu, Minangkabau, Tafsir Al-Azhar.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Subjects: | 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir |
| Depositing User: | Ari Eka Wahyudi |
| Date Deposited: | 27 Jan 2026 08:00 |
| Last Modified: | 27 Jan 2026 08:00 |
| URI: | http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/93020 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
