Search for collections on Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository

PENAFSIRAN TENTANG MAKNA AL-QAWÃMAH DALAM QS. AN-NISA’ [4]: 34 TERHADAP PERAN WANITA DALAM RUMAH TANGGA MENURUT MUHAMMAD ABDUH DAN MUTAWALLI AS-SYA’RAWI (STUDI ANALISIS KOMPARATIF)”

AHMAD RIADI, - (2025) PENAFSIRAN TENTANG MAKNA AL-QAWÃMAH DALAM QS. AN-NISA’ [4]: 34 TERHADAP PERAN WANITA DALAM RUMAH TANGGA MENURUT MUHAMMAD ABDUH DAN MUTAWALLI AS-SYA’RAWI (STUDI ANALISIS KOMPARATIF)”. Thesis thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.

[img]
Preview
Text (BAB GABUNGAN)
BAB 1 SD V Tesis Ahmad Riadi - Ustadz Ahmad Riadi Hasibuan.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img] Text (BAB HASIL)
Tesis Ahmad Riadi bab iv ok - Ustadz Ahmad Riadi Hasibuan.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)
[img]
Preview
Text (SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI)
WhatsApp Image 2025-07-25 at 10.28.38 - Ustadz Ahmad Riadi Hasibuan.pdf - Published Version

Download (66kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran tentang makna al-qawamah dalam QS. An-nisa’ [4]: 34 terhadap peran wanita dalam rumah tangga menurut muhammad abduh dan mutawalli as-sya’rawi (studi analisis komparatif). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan teknik pengumpulan data melalui analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammad Abduh memandang konsep qowamah lebih bersifat fungsional dan kontekstual. Sementara Mutawalli Sya’rawi dalam tafsirnya menegaskan bahwa kepemimpinan laki-laki atas perempuan bersifat mutlak dan alamiah. Metode penafsiran yang digunakan oleh Muhammad ‘Abduh dalam menafsirkan ayat tentang al-Qowamah, adalah metode tahlili. Sedangkan pendekatan penafsirannya menggunakan pendekatan bi al-ra’yi yang berorientasi pada reformasi sosial budaya (adab al-ijtimâ’i). Sementara Muhammad Mutawalli Sya’rawi menggunakan metode penggabungan antara metode tafsir bil ma’tsur dan metode tafsir bi al-ra’yi. Sumber yang digunakan Muhammad Mutawalli Sya’rawi dalam menggunakan penafsirannya adalah dengan analisa bahasa (at tahlil al lughawi. Perbedaan penafsiran pada Muhammad Abduh dan Muhammad Mutawalli Sya’rawi adalah dari metode dan corak penafsirannya. Adapun Muhammad Abduh menggunakan metode tahlilli dengan pendekatan bi al-ra’yi.. Sedangkan Muhammad Mutawalli Sya’rawi menggunakan metode penggabungan antara metode tafsir bil ma’tsur dan metode tafsir bi al-ra’yi. Persamaan penafsiran Muhammad Abduh dengan Muhammad Mutawalli Sya’rawi di sini adalah sebab posisi laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga secara normatif untuk memberikan kepastian siapa yang menjadi pemimpin antara laki-laki atau perempuan. Pada masa muslim modern sekarang ini makna al-Qawwamah nampaknya penafsiran Muhammad Abduh yang lebih relevan. Hal ini disebabkan karena Proses modernisasi yang terus berlanjut, disertai dengan kecenderungan materialisme yang sukar dibendung, telah melahirkan kebutuhan dan keinginan-keinginan baru yang mendesak untuk dipenuhi. Namun dalam hidup berumah tangga, penafsiran Muhammad Mutawalli Sya’rawi yang paling relevan. Hal ini disebabkan karena dalam surat an-Nisa’ ayat 34 tersebut menjelaskan bahwa laki-laki atau suami merupakan pemimpin, pelindung, penanggungjawab perempuan (istri). Kata Kunci: Abduh, Sya’rawi, al-Qowwamah

Item Type: Thesis (Thesis)
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDKEmail
Thesis advisorMasyhuri Putra, -2022047101masyhuri.putra@uin-suska.ac.id
Thesis advisorZailani, -2027047201zailani@uin-suska.ac.id
Subjects: 000 Karya Umum
Divisions: Program Pascasarjana > S2 > Hukum Keluarga
Depositing User: Mr Eko Syahputra
Date Deposited: 25 Jul 2025 14:38
Last Modified: 25 Jul 2025 14:38
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/91267

Actions (login required)

View Item View Item