NENSHI MANGGAR NINGRUM, - (2025) Praktik Mistik Kejawen dalam Atraksi Sanggar Seni Reog Ponorogo Singo Mbalelo Pekanbaru Perspektif Aqidah Islam. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
|
Text (Gabungan)
GABUNGAN KECULI BAB IV - NENSHI MANGGAR NINGRUM Aqidah dan Filsafat Islam.pdf - Published Version Download (6MB) | Preview |
|
|
Text (Hasil)
BAB IV - NENSHI MANGGAR NINGRUM Aqidah dan Filsafat Islam.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (584kB) |
||
|
Text (Pernyataan)
img489 - NENSHI MANGGAR NINGRUM Aqidah dan Filsafat Islam.pdf - Published Version Download (139kB) | Preview |
Abstract
Reog Ponorogo sangat erat kaitannya dengan unsur-unsur Mistik Kejawen dalam atraksinya, salah satunya adalah Warok. Warok berasal dari Bahasa Arab wara'a yang berarti orang yang melakukan praktik-praktik mistik (spiritual). Selain Warok, juga dipentaskan Jathilan, Pujangga Anom, Klana Swandono, dan Pembarong. Penelitian ini merupakan kajian tentang Praktik Mistik Jawa di Sanggar Seni Reog Ponorogo Sanggar Singo Mbalelo Pekanbaru Perspektif Aqidah Islam, yang dikaji dengan menggunakan Teori Mistisisme Niels Mulder. Penelitian ini merupakan kajian tentang Praktik Mistik Kejawen dalam Sanggar Seni Reog Ponorogo Sanggar Singo Mbalelo Pekanbaru Perspektif Aqidah Islam yang dianlisis menggunakan Teori Mistisme Niels Mulder. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang menggunajan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah peguat Seni Reog Ponorogo di Sanggar Singo Mbalelo Pekanbaru. Adapun hasil penelitian ini menyatakan terdapat praktik mistis dalam Reog Singo Mbalelo, di antaranya Motif Mistisme di sanggar ini terbagi menjadi Motif Positif, seperti kepedulian sosial dan nilai ibadah, serta Motif Egois berupa dorongan pribadi pendiri sanggar dalam melestarikan budaya leluhur. Praktik Mistisisme mencakup keyakinan terhadap roh penunggu, penggunaan mantra, dan ritual yang selaras dengan empat tataran spiritual: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Eksistensi Mistisme tampak dalam dimensi spiritual, material, dan moral, termasuk dalam pelestarian nilai-nilai Budaya Jawa dan pencegahan perilaku negatif di kalangan generasi muda. Tujuan Mistisisme diwujudkan melalui sikap menerima takdir (nrima) dan pengabdian (dharma) yang direalisasikan dalam pendirian sanggar sebagai bentuk rasa syukur. Dari perspektif aqidah Islam, praktik mistisme ini tidak sepenuhnya bertentangan dengan prinsip tauhid, karena nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya dapat selaras dengan pendekatan tasawuf, menjadikan kesenian Reog sebagai media dakwah dan pemberdayaan sosial berbasis Budaya Jawa. Kata kunci: Praktik, Mistik Kejawen, Reog Ponorogo Singo Mbalelo."
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Subjects: | 000 Karya Umum | ||||||||||||
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Ilmu Aqidah dan Filsafat | ||||||||||||
| Depositing User: | Mr. doni s | ||||||||||||
| Date Deposited: | 16 Jul 2025 06:51 | ||||||||||||
| Last Modified: | 16 Jul 2025 06:51 | ||||||||||||
| URI: | http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/90298 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
