MUHAMMAD THORIQ, - (2025) REVITALISASI MAKNA FAKIR MISKIN DAN IMPLEMENTASINYA PADA PASAL 34 UUD 1945 PERSPEKTIF HADIS. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
|
Text (BAB GABUNGAN)
SKRIPSI FUL KECUALI BAB IV MUHAMMAD THORIQ - Muhammad Thoriq.pdf - Published Version Download (2MB) | Preview |
|
|
Text (BAB HASIL)
SKRIPSI BAB IV MUHAMMAD THORIQ - Muhammad Thoriq.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
||
|
Text (SURAT PERNYATAAN)
SURAT PUBLIKASI THORIQ - Muhammad Thoriq.pdf - Published Version Restricted to Repository staff only Download (348kB) |
Abstract
Di Indonesia, pada pasal 34 UUD 1945, Permasalahan fakir dan miskin merupakan isu sosial yang terus hadir dalam kehidupan masyarakat dan menjadi perhatian utama dalam ajaran Islam. yang mana, pasal 34 UUD 1945 lebih condong menyamaratakan antara istilah Fakir dan Miskin, baik dari segi pemaknaannya, begitu juga dengan pendistribusiannya. Padahal makna fakir dan miskin didalam hadis memiliki istilah yang berbeda, yang mana fakir adalah orang yang tidak memiliki harta, tempat tinggal serta pekerjaan, sedangkan miskin adalah orang yang memiliki harta, tempat tinggal, pekerjaan, namun harta yang ia peroleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, serta orang-orang yang menjadi tanggungannya. Maka oleh karna itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk menelaah kembali makna fakir dan miskin dalam hadis Nabi Muhammad SAW serta mengkaji bagaimana implementasi makna tersebut dalam Pasal 34 UUD 1945 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Metode Penelitian yang digunakan penulis adalah pendekatan kualitatif dengan metode tematik (mawḍū‘ī), dengan menelusuri hadis-hadis yang berkaitan serta menganalisis penafsiran para ulama dan konteks sosial kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif hadis, fakir dan miskin memiliki makna yang tidak sekedar ekonomi, tetapi mencakup aspek moral, psikologis dan sosial. Hadis membedakan antara fakir yang tidak memiliki apapun dan miskin yang memiliki sebagian kebutuhan namun tidak mencukupi. Sementara itu, dalam konteks Pasal 34 UUD 1945, negara belum sepenuhnya mampu membedakan dua kategori ini secara tepat dalam implementasi kebijakan sosial. Oleh karena itu, revitalisasi makna fakir dan miskin menurut hadis penting untuk dijadikan rujukan dalam kebijakan publik agar penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan adil. Kata Kunci: Revitalisasi, Fakir Miskin, Hadis, UUD 1945, Keadilan Sosial.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||||||
| Subjects: | 000 Karya Umum | ||||||||||||
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin > Ilmu Hadis | ||||||||||||
| Depositing User: | Mr. doni s | ||||||||||||
| Date Deposited: | 11 Jul 2025 06:56 | ||||||||||||
| Last Modified: | 11 Jul 2025 06:56 | ||||||||||||
| URI: | http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/89941 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
