HUKUMAN BAGI ANAK DIBAWAH UMUR YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA DITINJAU MENURUT FIQIH JINAYAH (Studi Kasus Pengadilan Negeri Pekanbaru)

Yeni Kusnita, (2010) HUKUMAN BAGI ANAK DIBAWAH UMUR YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA DITINJAU MENURUT FIQIH JINAYAH (Studi Kasus Pengadilan Negeri Pekanbaru). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201129.pdf

Download (315kB) | Preview

Abstract

Skipsi ini berjudul: “Hukuman Bagi Anak Dibawah Umur Yang Melakukan Tindak Pidana Ditinjau Menurut Fiqh Jinayah (Study Kasus Pengadilan Negeri Pekanbaru)’. Dipengadilan Negeri pekanbaru anak-anak dibawah umur yang melakukan tindak pidana tetap dikenai hukuman, namun hukuman yang dijatuhkan terhadap anak dibawah umur tidaklah sama dengan hukuman yang dijatuhkan terhadap orang dewasa. Akan tetapi dalam fiqh jinayah anak dibawah umur tidak bisa diberikan hukuman ataupun pertanggungjawaban pidana karena anak dibawah umur tidak memenuhi syarat untuk diberikan hukuman pokok, namun dipengadilan Negeri dalam menjatuhkan hukuman terhadap anak dibawah umur juga atas dasar berbagai pertimbangan. Jadi hukuman yang divonis oleh hakim pengadilan negeri terhadap anak dibawah umur apakah sama atau bisa dibenarkan menurut fiqh jinayahnya? Adapun yang menjadi masalah dalam skripsi ini adalah bentuk hukuman yang dijatuhkan oleh hakim pengadilan negeri pekanbaru terhadap anak dibawah umur yang melakukan tindak pidana dan tinajauan fiqh jinayahnya terhadap hukuman yang dijatuhkan terhadap anak dibawah umur yang melakukan tindak pidana. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang berlokasi di Pengadilan Negeri Pekanbaru, yang terletak di Jln. Teratai No. 85 Pekanbaru Riau. Adapun yang menjadi metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan study dokumentasi. Sedangkan yang menjadi populasi dalam penelitian ini berjumlah 12 orang yaitu yang terdiri dari pihak-pihak yang terkait dalam menyelesaikan kasus ini dan terdakwa itu sendiri, karena populasi dalam penelitian ini tidak terlalu banyak, maka penelitian ini tidak menggunakan sampel. Dari uraian-uraian yang disajikan dan dari berbagai tinjauan, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa hukuman yang dijatuhkan oleh hakim pengadilan negeri pekanbaru terhadap anak dibawah umur, seperti kasus pencurian hukuman yang dijatuhkannya adalah selama 3 (tiga) bulan 15 (lima belas) hari penjara dan kasus pemerasan hukumannya adalah 5 (lima) bulan penjara, bahwa hukuman yang dijatuhkan itu bukanlah sepenuhnya hukuman pokok dari tindak pidana itu sendiri. Tapi hukuman pokok yang sudah dikurangi 1/3 (sepertiga) dari hukuman pokok, disebabkan pelakunya adalah anak dibawah umur. Dalam fiqh jinayah anak dibawah umur yang melakukan tindak pidana yang dijatuhkan oleh hakim pengadilan negeri bisa dibenarkan, karena dalam fiqh jinayah anak dibawah umur tidak dikenai hukuman, bisa saja untuk kemaslahatan. Jika anak dibawah umur tersebut tidak dikenai hukuman, maka ia akan meraja lela. Maka anak tersebut bisa saja dikenai hukuman pengganti. Sebagai pengganti dari hukuman pokoknya adalah hukuman ta’zir. Sedangkan ta’zir adalah hukuman yang sifatnya pengajaran atau mendidik yang mana hukumannya tidak diatur oleh nash, akan tetapi diserahkan kepada ulil amri untuk menentukan bentuk-bentuk hukumannya sesuai dengan tindak pidana yang dilakukannya. Dalam hal ini bisa saja ulil amri membebaskannya dari hukuman atau bisa saja dikenai hukuman.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.2 Teologi Islam, Aqaid dan Ilmu Kalam > 297.272 Islam dan Ilmu Politik, Politik Islam, Fundamentalisme Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Tata Negara (Siyasah)
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 13 Jan 2016 08:45
Last Modified: 13 Jan 2016 08:45
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/793

Actions (login required)

View Item View Item