Search for collections on Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository

Studi Komparasi Pandangan Imam Nawawi dan Yusuf Al Qardhawi tentang Kewajiban Domestik dalam Rumah Tangga Perspektif Teori Mubadalah

ABDUL KHOLIQ, AKH (2024) Studi Komparasi Pandangan Imam Nawawi dan Yusuf Al Qardhawi tentang Kewajiban Domestik dalam Rumah Tangga Perspektif Teori Mubadalah. Thesis thesis, UIN Suska Riau.

[img]
Preview
Text
Tesis Kholiq Terkini pasca Ujian Sidang 25-03-24 (1).pdf - Published Version

Download (4MB) | Preview
[img] Text
Tesis Kholiq bab IV (2).pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (4MB)

Abstract

Walaupun pekerjaan rumah tangga atau tugas domestik di dalam benak masyarakat telah lumrah diperankan oleh perempuan atau istri, akan tetapi kewajiban untuk mengerjakan tugas domestik tersebut di dalam pandangan para ulama masih menuai perbedaan. Imam Nawawi berpandangan bahwa kewajiban mengerjakan tugas domestik dalam rumah tangga adalah mutlak dibebankan kepada suami. Sebaliknya, Yusuf al Qardhawi berpandangan bahwa tugas domestik tersebut adalah kewajiban seorang istri. Penelitian ini menjadi menarik, sebab kedua pandangan yang berbeda tersebut akan dilihat melalui lensa teori mubadah yang tengah berkembang dan dianggap sebagai pendekatan yang berparadigma progresif hari ini, dengan rumusan masalah: Bagaimana (1) pandangan dan (2) argumentasi imam Nawawi dan Yusuf al Qarhawi prihal kewajiban domestik dalam rumah tangga? Dan bagaimana pandangan kedua tokoh tersebut jika dilihat dalam perspektif mubadalah? Penelitian ini berjenis library research dan menggunakan tiga pendekatan: normatif-idealis, komparatif, dan sosio-historis. Kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan menggunakan teori mubadalah. Hasil penelitian menyebutkan bahwa (1) Imam Nawawi berpandangan bahwa kewajiban domestik atau kewajiban melakukan pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri. Seandainya, istri pun mengambil peran itu, ia tetap bukan sebuah kewajiban bagi istri, melainkan hanya sebagai prilaku terpuji semata. Sebaliknya, Yusuf al Qardhawi berpandangan bahwa kewajiban domestik tersebut adalah kewajiban semata yang dibebankan kepada istri bukan kewajiban yang diperuntukkan bagi suami. (2) Adapun argumentasi yang digunakan oleh imam Nawawi: pertama, frase wa a’syiruhunna bi al ma’ruf dalam Q.S An Nisa‟ ayat 19, dan salah satu prilaku ma’ruf tersebut adalah melakukan pelayanan domestik kepada istri. kedua, argumetasi dari hadis yang mengisahkan keluarga Jabir. Ketiga, argumentasi rasional, yakni objek yang dituntut dari akad pernikahan itu adalah untuk istimta’ (bersenang-senang) atau pelayanan seksual bukan untuk istikhdam (pelayanan domestik). Sedangkan argumentasi yang digunakan oleh Yusf Al Qardhawi: pertama, argumentasi Al Qur‟an yakni kewajiban istri mengerjakan tugas domestik yang terkandung dalam kata ma’ruf yang ada dalam Q.S Al Baqarah ayat 228 adalah telah dikenali sejak dulu. Kedua, argumentasi dari hadis, yakni hadis-hadis yang membunyikan kisah-kisah istri para sahabat dan para istri lainnya yang semasa hidup berumah tangga mereka, mereka mempraktikkan pelayanan pekerjaan rumah terhadap suami mereka. Ketiga, argumentasi rasional, yakni karena kewajiban menafkahi telah dibebankan kepada suami, maka yang paling banyak di luar rumah adalah suami, sedangkan istri lebih banyak di dalam rumah. Oleh karena istri lebih banyak berada di dalam rumah, maka kewajiban domestik akan adil bila diemban oleh istri semata. (3) Tugas pekerjaan rumah tangga atau domestik dalam perspektif teori mubadalah adalah tanggung jawab bersama atau kewajiban bersama antara suami dan istri yang bersifat fleksibel. Oleh karena itu pandangan imam Nawawi yang menjadikan suami semata sebagai pihak yang berkewajiban mengerjakan tugas-tugas domestik dan istri hanya berkewajiban semata dalam memberikan layanan seksual kepada suaminya adalah tidak selaras dengan pandangan mubadalah. Demikian halnya dengan pandangan Yusuf Al Qardhawi yang menjadikan tugas domestik sebagai kewajiban dominan istri sedangkan suami memiliki kewajiban dominan untuk mencari nafkah adalah tidak sejalan dengan pandangan teori mubadalah.

Item Type: Thesis (Thesis)
Contributors:
ContributionNameNIDN/NIDKEmail
Thesis advisorDr. H. HELMI BASRI, Lc, MA, -2004077402-
Thesis advisorDr. H. MAGHFIRAH, M.Ag, -2025107401-
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.577 Perkawinan Menurut Islam, Pernikahan Menurut Islam, Munakahat
Divisions: Program Pascasarjana > S2 > Hukum Keluarga
Depositing User: pps -
Date Deposited: 22 Apr 2024 03:45
Last Modified: 22 Apr 2024 03:45
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/78289

Actions (login required)

View Item View Item