KEPEMILIKAN HARTA BERSAMA SETELAH PERCERAIAN MENURUT HUKUM ISLAM ( Studi Kasus di Desa Kota Lama Kecamatan Kunto Darussalam )

Melda Kostarika, (2011) KEPEMILIKAN HARTA BERSAMA SETELAH PERCERAIAN MENURUT HUKUM ISLAM ( Studi Kasus di Desa Kota Lama Kecamatan Kunto Darussalam ). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Sarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_2011164.pdf

Download (269kB) | Preview

Abstract

Adapun penelitian ini berjudul : “Kepemilikan Harta Bersama Setelah Perceraian Menurut Hukum Islam ( Studi Kasus di Desa Kota Lama Kecamatan Kunto Darussalam )”. Adapun alasan penulis memilih judul ini karena pada masyarakat Desa Kota Lama terjadi kasus tentang kepemilikan harta bersama setelah perceraian dimana harta bersama menjadi milik isteri sepenuhnya sementara suami tidak medapat apa-apa dari harta bersama setelah perceraian. Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana konsep harta bersama pada masyarakat Desa Kota Lama, Bagaimana status harta bersama setelah perceraian pada masyarakat Desa Kota Lama, Bagaimana proses penyelesaiannya jika terjadi konflik dalam masalah harta bersama setelah terjadinya perceraian di Desa Kota Lama, dan bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap masalah tersebut. Adapun konsep harta bersama menurut masyarakat Desa Kota Lama adalah harta yang diperoleh dalam perkawinan, baik yang bekerja suami ataupun isteri Status harta bersama dalam perkawinan menurut masyarakat Desa Kota Lama apabila terjadi perceraian maka harta bersama menjadi milik isteri sepenuhnya, dan faktor penyebabnya adalah karena isteri tidak bekerja. Apabila terjadi konflik dalam masalah harta bersama setelah perceraian akan diselesaikan dengan jalan damai dari kedua belah pihak, namun bila tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai maka diselesaikan oleh tokoh adat atau ninik mamak dan pihak-pihak yang mengalami konflik harus menerima keputusan dari ninik mamak tersebut. Kepemilikan harta bersama setelah perceraian menurut masyarakat Desa Kota Lama tidak sesuai dengan ajaran Islam karena isteri mendapatkan hak penuh atas harta bersama sedangkan suami tidak mendapatkan apa-apa, padahal Islam telah menyatakan ada bahagian untuk laki-laki dan perempuan atas apa yang mereka usahakan, sedangkan pepatah adat yang mengatakan “ Adat Bersandikan Syara’, Syara’ Bersandikan Kitabullah “, tidak terlaksana pada adat desa tersebut.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.577 Perkawinan Menurut Islam, Pernikahan Menurut Islam, Munakahat
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 12 Jan 2016 09:00
Last Modified: 12 Jan 2016 09:00
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/781

Actions (login required)

View Item View Item