Search for collections on Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository

PENTINGNYA PEMIMPIN YANG TAFAQQUH FIDDIIN DALAM QS. AT-TAUBAH : 122 MENURUT MUFASIR

AHMAD JULISMAN, - (2023) PENTINGNYA PEMIMPIN YANG TAFAQQUH FIDDIIN DALAM QS. AT-TAUBAH : 122 MENURUT MUFASIR. Skripsi thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU.

[img] Text (BAB IV)
BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
[img]
Preview
Text
SKRIPSI AHMAD JULISMAN.pdf

Download (3MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK Skripsi ini berjudul: “PENTINGNYA PEMIMPIN YANG TAFAQQUH FIDDIIN DALAM QS. AT-TAUBAH : 122 MENURUT PARA MUFASIR”. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengungkap pemimpin yang tafaqquh fiddiin dalam al-Qur‟an surat at-Taubah ayat 122 berdasarkan penafsiran ulama tafsir. Oleh karena itu penelitian ini mengajukan dua rumusan masalah : (1) Bagaimana penafsiran ulama tafsir tentang ayat al-Qur‟an surat at-taubah: 122?, (2) Bagaimana karakteristik pemimpin yang tafaqquh fiddiin dalam ayat al-Qur‟an surat at-Taubah: 122?. Jenis penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu Tafsir al-Maraghi karya Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Qurthubi karya Imam al- Qurthubi, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an kaya Sayyid Quthb, dan Tafsir Azhar karya Buya Hamka. Sedangkan data sekunder diambil dari buku-buku, tulisan karya ilmia terdahulu, dan artikel. Hasil penelitian: (1) Musthafa al-Maraghi berpandangan bahwa tujuan memperdalam ilmu agama bagi pemimpin adalah untuk membimbing kaumnya, mengajari mereka dan memberi peringatan kepada mereka tentang akibat dari kebodohan dan tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui, dengan harapan supaya mereka takut kepada Allah SWT. dan berhati-hati terhadap akibat kemaksiatan. Menurut al-Qurthubi hukum menuntut ilmu agama ada dua, yaitu fardhu ain, seperti shalat, zakat,puasa, dan fardhu kifayah, seperti menegakkan hukum, membuat kebijakan dan peraturan pemerintahan. Sedangkan Buya Hamka berpandangan bahwa al-Qur‟an surat at-Taubah ayat 122 ini menjadi pedoman dalam masyarakat Islam tentang adanya tenaga yang dikhususkan untuk memperdalam pengetahuan tentang agama, dan karena ilmu-ilmu Agama Islam sendiri mempunyai cabang-cabang khusus maka hal ini akan memunculkan spesialis, ahli, dan kejuruan dan kekhususan suatu ilmu. lalu kewajiban ahli itu memberi peringatan kepada kaumnya agar mereka berhati-hati. Sedangkan Sayyid Quthb berpandangan bahwa seseorang belum akan sepuhnya mendalami agama jika hanya berintraksi dengan buku-buku sampai keluar untuk membela agama dan membumikannya. (2) Karakter pemimpin yang tafaqquh fiddiin yang terdapat dalam al-Qur‟an surat at-Taubah: 122 adalah : berani, sehat dan kuat, berilmu, dan bijaksana. Kata kunci: Pemimpin, Tafaqquh Fiddiin, QS. at-Taubah: 122, Mufasir.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir
Depositing User: fushu -
Date Deposited: 20 Jul 2023 07:20
Last Modified: 20 Jul 2023 07:21
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/73973

Actions (login required)

View Item View Item