PENGGUNAAN ISTIHSANDALAM PENETAPAN HUKUM FIQH IMAM ASY-SYAFI’I MENURUT IMAM FAKHRUDDIN AR-ROZI

Muammar Gadapi Mtd, (2015) PENGGUNAAN ISTIHSANDALAM PENETAPAN HUKUM FIQH IMAM ASY-SYAFI’I MENURUT IMAM FAKHRUDDIN AR-ROZI. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
fm.pdf

Download (294kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (100kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (134kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (105kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (128kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (20kB) | Preview
[img]
Preview
Text
em.pdf

Download (15kB) | Preview

Abstract

Skripsi yang berjudul: PENGGUNAAN ISTIHSAN DALAM PENETAPAN HUKUM FIQH IMAM ASY-SYAFI’I MENURUT IMAM FAKHRUDDIN AR-ROZI. Ketika berbicara tentang masalah sumber-sumber hukum (masadir al-ahkam) atau dalil dalam menetapkan suatu hukum (adillah al- ahkam), di dalam ushul fiqh terbagi kepada dua, yaitu sumber hukum yang disepakati dan sumber hukum yang diperselisihkan oleh para ulama. Diantara sumber hukum yang diperselisihkan tersebut adalah istihsan. Dalam hal ini, Imam Syafi’i menolak istihsan dijadikan sebagai dalil/hujjah dalam menetapkan suatu hukum. Sementara itu, dari kalangan mazhab Hanafi menjadikannya sebagai dalil/hujjah dalam menetapkan suatu hukum. Akan tetapi, sebagian ulama Hanafiyah, setelah memperhatikan dan menelaah beberapa fatwa Imam Syafi’i, seperti dalam masalah mut’ah, syuf’ah, hamba mukatab, pengambilan sumpah dengan mushaf, pemotongan tangan kiri pencuri, beranggapan bahwa Imam Syafi’i dalam prakteknya juga menggunakan istihsan sebagai dalil hukum. Oleh karenanya, mereka berpendapat bahwa Imam Syafi’i tidak konsisten terhadap pemikiran hukumnya. Di sisi lain, Fakhruddin ar- Rozi sebagai pengikut Imam Syafi’i membenarkan bahwa Imam Syafi’i menggunakan ungkapan “astahsinu” di dalam menetapkan hukum, namun hal itu hanya dari segi lafaz, yang berarti bahwa penggunaan kata itu hanya dari segi lafaznya saja bukan secara maknanya, sesungguhnya perbedaan pendapat itu adalah dari segi makna istihsan. Demikianlah klarifikasi yang dinyatakan oleh Fakhruddin ar-Rozi. Adapun pokok-pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep istihsan menurut Fakhruddin ar-Rozi, bagaimana pandangan Imam Syafi’i terhadap istihsan, bagaimana penggunaan istihsan dalam penetapan hukum fiqh Imam Syafi’i menurut Fakhruddin ar-Rozi?. Untuk menjawab pokok permasalahan ini, studi ini termasuk dalam penelitian pustaka yang bersipat deskriftif dan analisis. Data tentang pemikiran hukum Imam Syafi’i dan Fakhruddin ar-Rozi ditelusuri dalam kitab-kitabnya. Sementara data yang berkaitan dengan sisi analisis dari studi ini ditelusuri dalam sumber primer dan kitab-kitab pendukung lainnya yang sesuai dengan penelitian ini. Setelah berhasil dikumpulkan, data dikelompokkan dan di analisis. Berdasarkan analisis dari data tersebut, penelitian ini mengungkapkan bahwa apa yang dituduhkan sebagian ulama Hanafiyah terhadap Imam Syafi’i tidaklah benar. Karena apa yang dimaksudkan Imam Syafi’i dengan ungkapan “astahsinu” di dalam beberapa fatwanya bukanlah dalam pengertian istihsan dari segi substansinya, akan tetapi yang dimaksudkan dari segi lafaznya. Hal ini terbukti bahwa Imam Syafi’i dalam menetapkan hukum pada beberapa masalah yang dianggap oleh sebagian ulama menggunakan istihsan ternyata qiyas dan khabar yang dijadikan sebagai sumber hukum. Dengan demikian, apa yang dipaparkan oleh Fakhruddin ar-Rozi adalah benar bahwa Imam Syafi’i tidak pernah menggunakan istihsan dalam menetapkan hukum fiqhnya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.56 Etika Moral Islam dalam Hal Tertentu
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 14 Sep 2016 14:44
Last Modified: 14 Sep 2016 14:44
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/7322

Actions (login required)

View Item View Item