KEDUDUKAN SAKSI DALAM KEABSAHAN PERKAWINAN STUDI KOMPERATIF PENDAPATIMAM MALIK DAN IMAM SYAFI’I

Jamaluddin Harahap, (2015) KEDUDUKAN SAKSI DALAM KEABSAHAN PERKAWINAN STUDI KOMPERATIF PENDAPATIMAM MALIK DAN IMAM SYAFI’I. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
FM.pdf

Download (223kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (124kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (141kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (227kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (216kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (15kB) | Preview
[img]
Preview
Text
EM.pdf

Download (23kB) | Preview

Abstract

Skripsi ini berjudul Kedudukan Saksi Dalam Keabsahan Perkawinan Studi Komperatif Pendapat Imam Malik Dan Imam Syafi’i. PenulisanskripsiinidilatarbelakangiolehadanyaperbedaanpendapatantaraIm am Malik dan Imam Syafi’itentanghalsaksidalamperkawinan, Imam Syafi’iberpendapat bahwa saksi termasuk kepada rukun pernikahan, sehinggaapabila akad pernikahan tidak dihadiri oleh saksi, maka pernikahan tersebut menjadi batal, walaupun diumumkan kepada halayak ramai. Tetapi menurut Imam Malik saksi tidak termasuk kedalam rukun nikah, sehingga kehadiran saksi tidak dituntut ketika berlangsungnya akad pernikahan tersebut. Mencermati pendapat kedua Imam diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan rumusan masalah; Bagaimana kedudukan saksi dalam keabsahan perkawinan menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, bagaimana metode istimbat hukum yang digunakan Imam Malik dan Imam Syafi’i dalam menetapkan kedudukan saksi dalam keabsahan perkawinan, serta bagaimana analisis fiqih Muqaran terhadap Pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang kedudukan saksi dalam keabsahan perkawinan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, yaitu dengan menelaah literature yang berhubungan dengan pembahasan ini. Sumber data terdiri atas sumber primer yaitu kitab-kitab fikih Imam Malik dan Imam Syafi’i, serta sumber sekunder kitab-kitab fikih dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.Kitab dan buku-buku tersebut dikumpulkan dan kemudian dibahas dan dianalisa dengan menggunakan metode deskriptif, deduktif, induktifdankomparatif. Adapun hasil dari penelitian yang penulis lakukan, bahwa saksi menurutImam Malik tidak termasuk kedalam rukum pernikahan, tetapi hanya sebagai syarat tamm(sempurna) sebuah pernikahan sehingga saksi tidak dituntut kehadirannya pada waktu aqad nikah berlangsung, namun saksi dituntut kehadirannya setelah selesai akad dandukhul. Imam Malik lebih mengutamakan pemberitahuan (i’lan) pernikahan dari pada kesaksian itu sendiri, karena dalam i’lan sudah tercakup kesaksian.Metode istinbat hukum yang digunakan oleh Imam Malik adalahhadisNabi, Qaul Sahabi dan qiyas. Sedangkan menurut Imam Syafi’i saksi merupakan rukun nikah, dan merupakan penentu syah-nya sebuah pernikahan, beliau berpendapat bahwa saksi harus dihadirkan saat aqad nikah dilangsungkan, agar mereka melihat dan mendengar saat prosesi akad nikah tersebut, untuk dapat di pertanggungjawabkan dikemudian hari, dan metode istimbat yang digunakan Imam Syafi’iadalah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Aisyah radiyallohu ‘anhu Kewajiban mempersaksikan oleh dua orang saksi dilakukan saat akad nikah berlangsung.Menurut analisis penulis lebih cendrung kepada pendapat Imam Syafi’i, yang melihat pendapatImam Syafi’isebagai suatu tindak kehati-hatian terhadap akibat hukum yang ditimbulkan dalam hubungan pernikahan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.8 Sekte-sekte dalam Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Mazhab dan Hukum
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 12 Sep 2016 19:14
Last Modified: 12 Sep 2016 19:14
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/7232

Actions (login required)

View Item View Item