MEKANISME RUJUK DALAM TALAK RAJ’I STUDY KOMPERATIF IMAM MALIK DAN IMAM SYAFI’I

Ihsan Abdillah, (2015) MEKANISME RUJUK DALAM TALAK RAJ’I STUDY KOMPERATIF IMAM MALIK DAN IMAM SYAFI’I. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
fm.pdf

Download (231kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (110kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (76kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (160kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (129kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (22kB) | Preview
[img]
Preview
Text
em.pdf

Download (19kB) | Preview

Abstract

Keluarga yang bahagia lahir dan batin adalah dambaan setiap pasangan dan individu-individu yang terdapat dalam sebuah keluarga. Namun tidak menutup kemungkinan tujuan yang diidam-idamkan, akad yang mereka buat bersama mengalami goncangan yang berdampak pada lahirnya percekcokan suami istri, silang pendapat, yang masing-masing pihak masih saling membawa egonya masing-masing. Oleh karena itu perkawinan yang semula membahagiakan akan menjadi keretakan atau berakhir dengan perceraian (talak). Untuk itulah Islam mensyariatkan iddahsetelah terjadinya talak, yakni waktu untuk berfikir secara jernih untuk mencoba kembali (rujuk) untuk merajut kembali keluarga yang bahagia. Rujuk itu bertujuan untuk mengembalikan status perkawinan secara utuh, setelah terjadinya talak raj’i.Akibat dari talak raj’i adalah pengharaman seorang suami istri seperti orang lain, oleh karena itu mengembalikannya dengan cara rujuk. Imam Malik berpendapat bahwa rujuk itu diperbolehkan dengan berwathi’(persetubuhan) yang disertai dengan adanya niat. Imam Malik menegaskan seorang suami ingin merujuk istrinya harus ditekankan adanya niat, karena niat disini sangat penting untuk menentukan rujuk itu sah dan tidaknya. Adapun kehadiran saksi dianggap sunnah. Adapun Imam Syafi’i menolak dengan keras rujuk dengan perbuatan, rujuk itu sah harus melalui ucapan. Ucapan disini boleh dengan cara tulisan maupun langsung. Imam Syafi’i memberikan argumen dengan mengqiyaskan rujuk itu kepada nikah. Rujuk maupun nikah sama-sama bersifat menghalalkan setelah terjadi pengharaman. Oleh karena itu dalam rujuk diharuskan adanya ucapan atau ikrar sebagaimana dalam hal nikah. Menurut beliau bahwa nikah itu harus melalui ucapan tidak melalui wathi’ (persetubuhan) ataupun jima’ (memasukkan kemaluan laki-laki). Mencermati pendapat kedua Imam diatas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan rumusan masalah; Mekanisme rujuk dalam talak raj’i menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, bagaimana metode istinbath hukum yang digunakan Imam Malik dan Imam Syafi’i dalam mekanisme rujuk dalam talak raj’i, serta bagaimana persamaan dan perbedaan Pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i tentang mekanisme rujuk dalam talak raj’i. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, yaitu dengan menelaah literature yang berhubungan dengan pembahasan ini. Sumber data terdiri atas sumber primer yaitu kitab-kitab fikih Imam Malik dan Imam Syafi’i, serta sumber sekunder kitab-kitab fikih dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.Kitab dan buku-buku tersebut dikumpulkan dan kemudian dibahas dan dianalisa dengan menggunakan metode deskriptif, deduktif, induktifdankomparatif. Adapun hasil dari penelitian ini ternyata Imam Malik dalam menentukan cara rujuk dengan menggunakan konsep maslahah al-mursalah, dimana Imam Malik berpendapat bahwa rujuk itu bisa (persetubuhan) disertai atau diwajibkan adanya niat, sedangkan Imam Syafi’i dengan metode ijtihad yaitu dengan qiyas, beliau menyamakan rujuk dengan pernikahan, karena disini sama-sama adanya penghalalan setelah pengharaman. Oleh karena itu perbedaan pendapat dalam menetapkan mekanisme rujuk itu terletak pada konsep istinbath hukumnya. Menurut analisa penulis yang baik digunakanadalah pendapat Imam Syafi’i tanpa mengesampingkan pendapat imam Malik, karena dengan adanya ucapan serta diikuti dengan adanya saksi merupakan upaya memberikan kepastian kepada istri yang telah ditalak raj’i. hal ini mengingat bahwa terjadinya rujuk mempunyai arti telah sempurna.dilakukan dengan perbuatan wathi’

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.8 Sekte-sekte dalam Islam
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Perbandingan Mazhab dan Hukum
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 12 Sep 2016 18:18
Last Modified: 12 Sep 2016 18:18
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/7216

Actions (login required)

View Item View Item