ANALISIS PENDAPAT IBNU HAZAM TENTANG ZAKAT BARANG YANG DIPERDAGANGKAN

Syahrial Hasibuan (2015) ANALISIS PENDAPAT IBNU HAZAM TENTANG ZAKAT BARANG YANG DIPERDAGANGKAN. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
fm.pdf

Download (224kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB-I.pdf

Download (120kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (53kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB-III.pdf

Download (130kB) | Preview
[img] Text
BAB-IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (150kB)
[img]
Preview
Text
BAB-V.pdf

Download (16kB) | Preview
[img]
Preview
Text
em.pdf

Download (22kB) | Preview

Abstract

Berdasarkan firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 267, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam At-Tirmidzi dan juga Imam Bukhori Muslim bawa zakat harta yang diperdagangkan wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini juga menjadi landasan mayoritas fuqoha seperti Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal tentang kewajiban zakat zakat harta yang diperdagangkan. Tetapi Ibnu Hazam berpendapat lain dalam kitabnya Al-Muhalla, beliau berkata " Sungguh Rasulullah Saw. telah membatasi zakat, bagaimana kalian mewajibkan zakat atas tijarah, bukankah Rasulullah Saw. telah membatasi zakat pada jenis-jenis harta tertentu, yaitu emas, perak, hewan ternak (unta, sapi, kambing, dan hasil bumi (gandum dan kurma), barang siapa yang mewajibkan zakat tijarah, maka sesungguhnya dia mewajibkan dari setiap apa yang dilarang dari Nabi Saw. tentang zakat, sebagaimana zakat yang telah kami sebutkan " . Dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapat Ibnu Hazam tentang zakat barang yang diperdagankan dan untuk mengetahui alasan Ibnu Hazam bahwa barang yang diperdagangkan tidak wajib dizakati dan bagaimana metode istinbat yang digunakan Ibnu Hazam dalam menentukan hukum zakat barang yang diperdagangkan. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan bahan hukum primer yaitu Kitab Al-Muhalla karangan Ibnu Hazam sendiri. Sedangkan bahan hukum sekundenya yaitu buku-buku yang berhubungan dengan penelitian. Setelah dikumpulkan dan disusun dalam kerangka yang jelas, lalu dianalisa dengan menggunkan metode Conten Analysis dan deskriptif. Adapun hasil penelitian ini yaitu bahwa Ibnu Hazam tidak mewajibkan zakat harta yang diperdagangkan karena menurut beliau tidak ada ketentuan pada masa Rasulullah Saw. Karena menurut beliau hadits yang diriwaytakan oleh Imam Bukhori Muslim dan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dzahir hadits tersebut menyatakan tidak ada kewajiban baik yang diperdagangkan maupun lainnya dan kata zakat (sedekah) ini adalah kewajiban yang tidak ditentukan, akan tetapi hal ini belaku jika mereka baik dan akan dikenakan kafarat jika perdagangan mereka diliputi sesuatu yang membuat jual-beli mereka tidak sah lantaran adanya laghw (kekeliruan/kesia-siaan) dan sumpah. Sedangkan dasar-dasar yang digunakan Ibnu Hazm dalam mengistinbatkan hukum itu ada empat yaitu nas Al-Qur’an, nas kalam Rasulullah, ijma' dan dalil. Dalam masalah kewajiban zakat harta yang diperdagangkan penulis cenderung kepada pendapat mayoritas fuqaha yang mewajibkan untuk mengeluarkan zakat harta yang diperdagangkan. Berdasarkan Ikhtiyat dan keumuman surat Al-Baqarah ayat 267.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.56 Etika Moral Islam dalam Hal Tertentu
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 31 Aug 2016 05:27
Last Modified: 31 Aug 2016 05:27
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/6634

Actions (login required)

View Item View Item