ANALISIS PENDAPAT IMAM ABU HANIFAH TENTANG QADHA PUASA TERHADAP ORANG YANG MENINGGAL DUNIA

Jon Asri, (2015) ANALISIS PENDAPAT IMAM ABU HANIFAH TENTANG QADHA PUASA TERHADAP ORANG YANG MENINGGAL DUNIA. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
fm.pdf

Download (152kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (110kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (104kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (151kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (152kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (17kB) | Preview
[img]
Preview
Text
em.pdf

Download (25kB) | Preview

Abstract

Skripsi ini berjudul “ANALISIS PENDAPAT IMAM ABU HANIFAH TANTANG QADHA PUASA TERHADAP ORANG YANG MENINGGAL DUNIA”. Ini ditulis berdasarkan latar belakang pendapat ulama, bahwa menurut para ulama apabila seseorang meningggal dunia masih mempunyai kewajiban puasa yang belum sempat di qadha sebelum dia wafat, sedangkan dahulunya ada waktu untuk mengqadhanya, maka wali berkewajiban untuk mengganti puasa kerabat yang telah wafat tersebut. Namun, berbeda dengan Imam Abu Hanifah yang tidak mewajibkan qadha bagi wali. Dengan demikian dalam skripsi ini penulis menelusuri dan menganalisa bagaimana pendapat Imam Abu Hanifah, alasan Imam Abu Hanifah menolak hadist shaheh dari Aisyah, dan dalil apa yang dipakai dalam pendapat tersebut. Adapun tujuan dari penelitian penulis maksudkan adalah untuk mengetahui pendapat Imam Abu Hanifah tentang qadha puasa bagi orang yang telah meninggal dunia. Alasan Abu Hanifah menolak qadha puasa bagi wali dan dalil apa yang dipakai Abu Hanifah untuk mendukung pendapatnya tersebut. Penelitian ini berbentuk penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan kitab Al- Mabsuth dan kitab Bada’i as-Shana’i, sebagai rujukan primer, dan buku-buku yang ada kaitannya dengan pembahasan penulis. Hasil yang temukan dalam penelitian ini adalah Abu Hanifah berpendapat bahwa Tidak boleh bagi walinya berpuasa atas nama si mayit, alasan kedua bahwa bagi wali hanya boleh menggantinya dengan memberi makan untuk satu hari satu orang miskin. Dalil yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah adalah hadis Ibnu Abbas dan Aisyah yang berfatwa untuk memberikan makanan kepada orang miskin atau dengan kata lain membayar kafarat. Jadi dalam masalah qadha puasa terhadap orang yang meninggal dunia, Abu Hanifah menggunakan istinbath hukumnya adalah aqwal al-Sahabah (fatwa sahabat).

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.56 Etika Moral Islam dalam Hal Tertentu
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 31 Aug 2016 05:18
Last Modified: 31 Aug 2016 05:18
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/6630

Actions (login required)

View Item View Item