PENDAPAT IMAM IBNU KATSIR DALAM MENGUNGKAP PERBEDAAN QIRAAT TERHADAP PENAFSIRAN JUZ I AL-QUR’AN

Muhmmmad Kamil Bin Ralib, (2015) PENDAPAT IMAM IBNU KATSIR DALAM MENGUNGKAP PERBEDAAN QIRAAT TERHADAP PENAFSIRAN JUZ I AL-QUR’AN. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
FM.pdf

Download (166kB) | Preview
[img]
Preview
Text
bab I.pdf

Download (93kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (72kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (144kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (156kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (10kB) | Preview
[img]
Preview
Text
EM.pdf

Download (22kB) | Preview

Abstract

Skripsi ini berjudul: “PENDAPAT IMAM IBNU KATSIR DALAM MENGUNGKAP PERBEDAAN QIRA’AT TERHADAP PENAFSIRAN JUZ I AL-QUR’AN”. Apabila kita berbicara tentang para mufassirr, tidak lengkap kiranya jika kita tidak mendiskusikan tentang Imam Ibnu Katsir. Kitab tafsir beliau yang terkenal, yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, yang lebih dikenali dengan nama Tafsir Ibnu Katsir, sering menjadi rujukan dan referensi di kalangan pencinta ilmu-ilmu agama. Keberadaan kitab tafsir ini telah menempatkan tafsir ini sebagai tafsir kedua terbaik dalam aliran yang bercorak Tafsir bil Ma’tsur setelah kitab Tafsir ath-Thabari yang ditulis oleh Ibnu Jarir al-Thabari. Akan tetapi, keahlian beliau sebagai seorang qari yang menguasai ilmu qiraat jarang sekali disinggung dalam penulisan-penulisan mengenai beliau. Padahal, beliau sering memasukkan perbahasan tentang qiraat dalam tafsir beliau. Maka, pada penelitian ini akan dikaji bagaimana metode Imam Ibnu Katsir dalam mengungkap perbedaan qiraat, dan bagaimana cara beliau menyelesaikannya. Setelah melakukan pengkajian terhadap tafsir beliau, maka disimpulkan bahwa Metode Imam Ibnu Katsir dalam mengungkapkan perbedaan qiraat, yakni dengan cara memulai dengan menyebutkan qiraat yang biasa dibaca oleh jumhur. Kemudian beliau menerangkan tentang adanya qiraat lain dengan membawa periwayatan tentang qiraat tersebut. Sekiranya bacaan qiraat itu adalah sahih, baliau menerangkan alasan tentang bacaan qiraat tersebut dari segi nahu. Sekiranya bacaan tersebut syaz, beliau menerangkannya dan menolak riwayat tersebut. Namun, beliau jarang memberi pendapat sendiri tentang manakah qiraat yang lebih utama, sebaliknya, hanya mencukupkan dengan menyampaikan pandangan mufassir terdahulu atau para sahabat dan tabi’in. Metode Imam Ibnu Katsir dalam menyelesaikan perbedaan qiraat adalah dengan cara merujuk kepada ayat-ayat lain yang beredaksi sama, sunnah, pendapat sahabat dan pendapat tabi’in. Sehingga penafsiran tersebut tidak menyalahi maknanya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 12 Aug 2016 05:17
Last Modified: 12 Aug 2016 05:17
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/6272

Actions (login required)

View Item View Item