KOMPETENSI SAKSI WANITA DALAM PERNIKAHAN (Studi Komparasi dalam Perpektif Mazhab Hanafi dan Syafi’i)

Unggul Pahmi Hasibuan, (2014) KOMPETENSI SAKSI WANITA DALAM PERNIKAHAN (Studi Komparasi dalam Perpektif Mazhab Hanafi dan Syafi’i). Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Sarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
FM.pdf

Download (489kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (158kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (189kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (207kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (155kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (21kB) | Preview
[img]
Preview
Text
EM.pdf

Download (41kB) | Preview

Abstract

Tesis ini membandingkan pandangan dua mazhab, yaitu mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i beserta argumentasi masing-masing. Mengenai keberadaan atau eksistensi saksi wanita dalam perkawinan menurut Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah, kedua imam ini sama-sama berpendapat bahwa saksi dalam pernikahan adalah syarat sah pernikahan. Dengan demikian, menghadirkan saksi dalam akad pernikahan hukumnya adalah wajib. Adapun konsep saksi dalam pernikahan menurut mazhab Syafi’i dalam akad pernikahan adalah mewajibkan dan mensyaratkan saksi yang menghadiri dan menyaksikan pernikahan tersebut semuanya adalah orang laki-laki (dua orang laki-laki) tanpa boleh diganti dengan saksi perempuan, atau satu orang laki-laki digantikan oleh dua orang perempuan. Alasannya adalah; pertama, karena perempuan itu cepat lupa, lalai, tidak mempunyai keyakinan yang kuat, lebih mendahulukan emosi dari pada fikiran sehat, dan lain-lain. Kedua, adanya hadis bahwa “Wanita tidak boleh menjadi saksi dalam masalah hudud, nikah dan thalak.”Selain itu, dalam pernikahan itu tidak ada hubungannya dengan kebendaan (jual-beli). Sedangkan pendapat mazhab Hanafi tentang saksi yang menghadiri dan menyaksikan akad pernikahan tidak harus orang laki-laki semua, akan tetapi boleh diganti dengan wanita, yakni satu orang laki-laki digantikan oleh dua orang perempuan. Alasannya adalah dengan mengqiyaskan saksi pernikahan dengan saksi transaski hutang piutang (mu’amalah) seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 282. Namun jika semua saksi perempuan, walaupun jumlahnya empat orang (masing-masing dua orang pengganti satu orang laki laki), maka menurut mazhab Hanafi tidak membolehkan. Dalam hal ini beliau mengqiyaskan dengan kesaksian jual beli. Sumber utama dalam penelitian ini adalah buku yang ditulis oleh para fuqaha’ masing-masing mazhab atapun kitab fiqih yang bercorak perbandingan (muqaranah) seperti Fiqh al-Islami wa Adillatuh karya Wahbah al-Zuhaili, Bidayah al-Mujtahid karya Ibn Ruysd, al-Mughni karya Ibnu Qudamah, al Majmu’ Syarh al-Muhazzab karya al-Nawawi, dan lain-lain. Dalam penelitian ini menggunakan beberapa pendekatan, yaitu; pendekatan sejarah, pendekatan interpretasi, dan pendekatan normatif. Jenis penelitian yang digunakan sepenuhnya bersifat kepustakaan (library research). Data-data dideskripsikan untuk menjelaskan konsep-konsep terkait. Data primer dan sekunder yang terkumpul diklasifikasi dan dianalisis dengan memberikan penafsiran dan komentar terhadap gagasan yang diteliti, yang juga dilengkapi dengan pendapat tokoh lainnya. Setelah data dideskripsikan apa adanya, maka dilakukan analisis dari berbagai pendapat yang ada. Hal ini dilakukan untuk menemukan perbedaan dan persamaan antara beberapa obyek penelitian.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.577 Perkawinan Menurut Islam, Pernikahan Menurut Islam, Munakahat
Divisions: Program Pascasarjana > S2
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 11 Jun 2016 06:43
Last Modified: 11 Jun 2016 06:43
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/5373

Actions (login required)

View Item View Item