HADIS LARANGAN MENAFSIRKAN AL - QUR’AN DENGAN RA’Y ( T ela’ah K ualitas dan M a’anil H adits Ibnu Abbas dalam S unan Al - Turmuzi)

Supriyanti, (2014) HADIS LARANGAN MENAFSIRKAN AL - QUR’AN DENGAN RA’Y ( T ela’ah K ualitas dan M a’anil H adits Ibnu Abbas dalam S unan Al - Turmuzi). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
fm.pdf

Download (332kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (82kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (33kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (74kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (171kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (12kB) | Preview
[img]
Preview
Text
em.pdf

Download (21kB) | Preview

Abstract

Setelah melakukan penelitian terhadap hadis - hadis larangan menafsirkan al - Qur’an dengan ra’y , maka dapat disimpulkan bahwa kualitas keseluruhan hadis tidak sampai derajat shahih, melainkan hasan saja, karena terdapat perawi yang tingkat ke - dhabit - an nya lemah seperti ‘abd al - ‘A’la dan Mu’ammal pada jalur sanad hadis model pertama. Dan Suhail bin ‘Abdillah pada jalur sanad model kedua. Apabila ditinjau dari isi hadis, kesemuanya berupa ungkapan Nabi Saw, artinya termasuk kategori hadis qauli . Semua hadis tersebut berdasar kepada Rasulullah Saw, artinya semuanya berkategori marfu’ , lebih spesifiknya marfu’ qauli haqiqi dan apabila ditinjau dari jumlah perawi yang meriwayatkan hadis tersebut, hadis model pertama hanya diriwayatkan oleh sahabat Ibn ‘Abbas bahkan sehingga tabi’ al - tabi’in diriwaykan oleh satu perawi saja, oleh karena itu hadis tersebut dinilai sebagai hadis garib, demikian pula dengan hadis model kedua yang juga garib mulai dari sahabat Jundub bin ‘Abdillah hingga tabi’ al - tabi’in. T entang kandungan hadis tersebut terdapat perbedaan beberapa ulama yakni yang melarang menafsirkan dengan ra’y dan yang membolehkannya, dan apabila diteliti kembali sebenarnya perbedaan pendapat tersebut bukan pada tataran makna al - ra’y secara kontekstual, melainkan tataran tekstual saja. Sehingga secara garis besar pemaknaan al - ra’y dalam perdebatan ini perlu dipahami dari dua sisi, yaitu: sekiranya al - ra’y iti digunakan pada ayat dengantetap memiliki kesesuaian dengan ungkapan orang Arab juga seirama denga n kandungan al - Qur’an dan al - Sunnah (secara umum) berikut tetap memelihara keseluruhan persyaratan yang dibutuhkan dalam menafsirkan al - Qur’an, maka penggunaaan al - ra’y seperti ini diperbolehkan tanpa keraguan. Sebaliknya, bila al - ra’y tersebut diperlakuka n tanpa memandang ketentuan - ketentuan kebahasan (dalam hal ini bahasa Arab) juga tidak sesuai dengan dalil - dalil syar’i atau tidak memenuhi persyaratan - persyaratan yang dibutuhkan di dalam penafsiran. Maka semua ulama sepakat penggunaaan al - ra’y yang demi kian ini terlarang. Sehingga tafsir bi al - ra’y yang masih memenuhi persyaratan - persyaratan penafsiran yaitu yang menelaah dari segi kebahasan, memperhatikan riwayat yang terkait dengan situasi dan kondisi saat ayat tersebut turun, memahami nasikh mansukh dan lainnya juga selaras dengan prinsip syar’i, maka diperkenankan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 28 Apr 2016 05:29
Last Modified: 28 Apr 2016 05:29
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/3905

Actions (login required)

View Item View Item