HAK ASUH ANAK DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI KASUS PUTUSAN PA. PEKANBARU NOMOR 112/PDT.G/2010/PA.PBR)

TURSINAH, (2013) HAK ASUH ANAK DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI KASUS PUTUSAN PA. PEKANBARU NOMOR 112/PDT.G/2010/PA.PBR). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2013_2013175AH.pdf

Download (318kB) | Preview

Abstract

Bahwa sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw.yang diriwayatkan dalam hadits, apabila terjadi perceraian antara suami dan istri, maka ibulah yang lebih berhak untuk mendidik atau mengasuh dan memelihara anak–anaknya sampai ibu tersebut menikah lagi. Begitu juga disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 105 yang berbunyi, Dalam hal terjadi perceraian: a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya. b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibu sebagai pemegang hak pemeliharaanya. c. Biaya pemeliharaannya ditanggung oleh ayah. Bagaimana jika dikaitkan atau dihubungkan dengan putusan Pengadilan Agama Pekanbaru Nomor 112/Pdt.G/2010/PA.Pbr yang mana hak asuh anak I yang berumur 9 tahun dan anak II yang berumur 5 tahun diserahkan kepada Tergugat dalam hal ini ayah atau suami. Sedangkan hak asuh anak III yang berumur4 tahun diserahkan kepada Penggugat dalam hal ini ibu atau Istri. Dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa pertimbangan Majelis Hakim menyerahkan hak asuh anak yang belum Mumayyiz kepada ayah (suami), bagaimana ketentuan Hukum Islamtentang hak asuh anak setelah terjadi perceraian dan bagaimana analisisHukum Islam terhadap putusan Pengadilan Agama Pekanbaru nomor 112/Pdt.G/2010/PA.Pbr. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang berlokasikan di Pengadilan Agama Pekanbaru.Sebagai subjek yaitu Hakim yang menyelesaikan perkara sedangkan objeknya hak asuh anak ditinjau menurut hukum Islam (studi kasus putusan Pengadilan Agama Pekanbaru nomor 112/Pdt.G/2010/PA.Pbr). Dengan data primer yaitu wawancara langsung dengan Hakim yang bersangkutanBiva Yasmiarti . Sedangkan data sekundernya yaitu buku, 4 majalah,artikel maupun undang – undang yang berkaitan dengan hak asuh anak.Dikarenakan penulis hanya meneliti satu putusan saja,maka Penulis tidak menggunakan sempel.Setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriftif dan kualitatif. Adapun hasil atau temuan dari penelitian ini adalah bahwa alasan atau pertimbangan Majelis Hakimmenyerhakan hak asuh anak yang belum Mumayyiz kepada ayah dalam hal ini mantan suami adalah karena ibu atau mantan istri sering memarahi dan memukul sang anak. Sehingga ketika dihadirkan di persidangan anak I dan anak II lebih senang tinggal bersama ayahnya dalam hal ini mantan suami. Ketentuan hukum Islam tentang hak asuh anak setelah terjadi perceraia adalah anak diserahkan kepada ibunya selama ibunya belum menikah lagi sebagai mana sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud. Apabila ditinjau menurut hukum Islam terhadap putusan pengadilan Agama Pekanbaru nomor 112/Pdt.G/2010/PA.Pbr, hak asuh anak nomor I dan nomor II diserahkan kepada ayah itu lebih mengutamakan kemaslahatan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: Surya Elhadi
Date Deposited: 20 May 2016 03:56
Last Modified: 09 Sep 2016 07:47
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/3314

Actions (login required)

View Item View Item