PANDANGAN IMAM ABU HANIFAH TERHADAP MAHAR BERUPA JASA

Hamdani, (2016) PANDANGAN IMAM ABU HANIFAH TERHADAP MAHAR BERUPA JASA. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
FM.pdf

Download (384kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (367kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (361kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (439kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (391kB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (254kB) | Preview
[img]
Preview
Text
EM.pdf

Download (266kB) | Preview

Abstract

Penelitian skripsi ini berjudul: “Pandangan Imam Abu Hanifah terhadap Mahar berupa Jasa”. Skripsi Jurusan Ahwal al-Syakhsiyyah, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Mahar merupakan pemberian dari calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Pemberian mahar merupakan suatu kewajiban yang bertujuan untuk meninggikan harkat dan martabat perempuan, tetapi saat ini mahar dianggap sebagai salah satu bagian dalam ritualitas akad nikah. Mahar yang diberikan beraneka ragam bentuknya, terutama mahar berupa harta benda (materi), padahal mahar dapat pula berupa jasa atau manfaat (non materi). Pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep mahar berupa jasa menurut imam Abu Hanifah. Dan bagaimana keterkaitan pemberian mahar berupa jasa dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif, oleh karena itu data-data sebagai penunjang penelitian, penulis dapatkan dari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini.Penulis dalam menganalisis data menggunakan metodede skriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep mahar berupa jasa menurut imam Abu Hanifah ini, tidak membolehkan terutama mahar berupa jasa dalam membacakan atau mengajarkan ayat-ayat al Qur’an karena mahar tersebut tidak termasuk harta yang tidak boleh mengambil upah darinya, sehingga tidak sah untuk dijadikan mahar, namun darinya wajib dibayar mahar mitsil. Keterkaitan pemberian mahar berupa jasa dalam akad perkawinan dengan konteks sekarang ini sesuai dengan KHI, bahwa mahar boleh berupa barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam (KHI Pasal 1 sub d). Mahar itu bisa berdasarkan asas kesederhanaan dan kemudahan serta berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak baik bentuk dan jenisnya (KHI Pasal 30 dan 31)

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.577 Perkawinan Menurut Islam, Pernikahan Menurut Islam, Munakahat
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: Mutiara Jannati
Date Deposited: 25 Feb 2016 07:15
Last Modified: 25 Feb 2016 07:15
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/2723

Actions (login required)

View Item View Item