PLURALISME DALAM PERSPEKTIF MUFASSIRIN

Muhammad Syukri, (2017) PLURALISME DALAM PERSPEKTIF MUFASSIRIN. Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img] Text
1. 2017132HK-S2COVER ok.pdf

Download (347kB)
[img] Text
2. 2017132HK-S2PENGESAHAN OK.pdf

Download (495kB)
[img] Text
3. 2017132HK-S2KATA PENGANTAR ok.pdf

Download (449kB)
[img] Text
4. 2017132HK-S2DAFTAR ISI ok.pdf

Download (324kB)
[img] Text
5. 2017132HK-S2ABSTRAK ok 2.pdf

Download (617kB)
[img] Text
6. 2017132HK-S2BAB I ok.pdf

Download (599kB)
[img] Text
7. 2017132HK-S2BAB II ok.pdf

Download (816kB)
[img] Text
8. 2017132HK-S2BAB III ok.pdf

Download (521kB)
[img] Text
9. 2017132HK-S2BAB IV ok.pdf
Restricted to Registered users only

Download (891kB)
[img] Text
10. 2017132HK-S2BAB V ok.pdf

Download (386kB)
[img] Text
11. 2017132HK-S2Daftar Pustaka ok.pdf

Download (419kB)

Abstract

Fenomena sejarah sosial masyarakat di berbagai belahan dunia dapat dikatakan tidak pernah terlepas dari konflik, baik yang bersumber dari agama atau yang bersumber dari faktor non keagaaman, seperti etnis, politik, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Indonesia sendiri mengalami problematika goncangan kesatuan bangsa yang sangat luar biasa. Ini terbukti dengan terjadinya kasus pembantaian di tahun 90-an yang terjadi di Ambon. Tahun 2016 penistaan agama oleh seorang yang Gubenur yang menduduki jabatannya di ibukota Negara. Terjadinya peperangan antar suku dan agama dari berbagai daerah di Indonesia. Dampaknya, tempat ibadah, anak-anak, wanita-wanita menjadi korban atas konflik yang terjadi. Untuk itu, pluralisme menjadi keniscayaan yang tak dapat dikesampingkan lagi untuk menjawab dan dijadikan solusi dari berbagai konflik tersebut. NKRI adalah harga mati dan pluralisme adalah jaminannya. Tidak akan terwujud sebuah negara kesatuan dengan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha di dalamnya tanpa ada tenggang-rasa antar umat beragama. Pluralisme di Indonesia sebenarnya bukan konsep baru dan asing, karena ia telah menjadi jiwa bangsa sejak dahulu. Hal tersebut tercermin pada semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika yang dikutip dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular (1365) yang secara politis dan geografis bermakna “bermacam ragam etnis dan agama yang hidup dikawasan Nusantara, tetapi memiliki satu tujuan yang sama”. Dalam al-Qur’an sendiri, banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan tentang pluralisme, seperti surah al-Baqarah ayat 62 yang menyatakan bahwa orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, Orang-orang Shabi’, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir mereka akan masuk ke dalam surga. Quraish Shihab memberikan penafsirannya pada ayat ini bahwa orang-orang beriman yakni yang mengaku beriman kepada nabi Muhammad saw, orang-orang yahudi, yakni yang mengaku beriman kepada nabi Musa as, orang-orang Nashrani yang beriman kepada nabi ‘Isa as, dan orang-orang shabi’in, kaum musyrik dan penganut kepercayaan lain. Siapa saja diantara mereka benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian sebagaimana yang sesuai dengan unsur yang diajarkan Allah melalui para nabi serta beramal shaleh, yakni yang bermanfaaat sesuai dengan tuntunan Allah, maka untuk mereka pahala amal-amal shaleh mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka menyangkut sesuatu apapun yang akan datang, dan tidak pula mereka bersedih menyangkut sesuatu yang telah terjadi. Hal ini berbeda dengan penafsiran Ibnu Katsir dan Sayyid Quthb, mereka mengatakan bahwa ayat ini berbicara tentang umat terdahulu, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah sebagai sesembahan dan mengakui akan kebenaran Islam, maka mereka akan masuk surga. xii Tesis dengan judul “Pluralisme dalam perspektif Mufassirin” ini ingin melihat dan mengungkapkan bagaimana penafsiran para mufassir tentang ayatayat yang mengandung pluralitas, serta bagaimana implikasinya dalam kehidupan modern. Penulis membatasi penafsiran mufassir dengan mengutip penafsiran Ibnu Katsir, Sayyid Quthb, dan Quraish Shihab. Penelitian ini dapat dikategorikan ke dalam motede penelitian kepustakaan (library research), karena objek material penelitian ini adalah dengan menggunakan bahan-bahan tulis kepustakaan seperti manuskrip, buku, majalah, surat kabar, dan dokumen lainnya. berdasarkan jenis datanya, penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yaitu bentuk penelitian yang dilakukan terhadap objek penelitian yang bersifat sosiologis. Dilihat dari tingkat eksplanasinya, penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat bersifat menjelaskan (explanatory), yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menjawab permasalah yang menjadi fokus penelitian dengan berupaya memberi penjelasan terhadap objek. Dalam penelitian yang bersifat menjelaskan ini, dimana sudah pasti ada teori-teori yang menjadi dasar. Penelitian ini merupakan bentuk penelitian al-Qur’an dan tafsir dengan menggunakan metode tematik (maudhu’i) yaitu suatu pendekatan atau metode menafsirkan al-Qur’an yang pola penafsirannya berangkat dari suatu persoalan atau tema yang ingin dikaji.Dari permasalahan di atas, dapat dihasilkan kesimpulan bahwa, satu, Para mufassir mengakui akan eksistensi agama-agama selain Islam, hal ini terlihat bagaimana para mufassir menerangkan tentang sejarah agama-agama tersebut namun hanya agama Islam yang benar. dua, implikasinya dalam kehidupan modern bahwa bahwa setiap penganut agama memahami akan eksistensi agama-agama lain, memberikan kebebasan dalam menganut agama dan menjalankan syariatnya, serta bertoleransi dalam perbedaan-perbedaan yang dilahirkan setiap agama.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 300 Ilmu Sosial
Divisions: Program Pascasarjana > S2 > Hukum Keluarga
Depositing User: Ms. Melda Fitriana
Date Deposited: 17 Jan 2020 03:36
Last Modified: 17 Jan 2020 03:36
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/25154

Actions (login required)

View Item View Item