LARANGAN PERKAWINAN PEGITON DI DESA KEPAU JAYA KECAMATAN SIAK HULU DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM

ADZIM ANNAFI, - (2019) LARANGAN PERKAWINAN PEGITON DI DESA KEPAU JAYA KECAMATAN SIAK HULU DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img] Text (BAB IV)
BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (650kB)
[img] Text
SKRIPSI ADZIM ANNAFI.pdf

Download (6MB)

Abstract

ABSTRAK Adzim Annafi, (2019) : Larangan Perkawinan Pegiton Di Desa Kepau Jaya Kecamatan Siak Hulu Ditinjau Menurut Hukum Islam. Larangan perkawinan pegiton adalah perkawinan yang dilarang akibat sumpah dari leluhur terdahulu, yang mana dilarangannya suku dayun dan suku melayu bonca duyan melaksanakan suatu ikatan perkawinan. Larangan perkawinan pegiton ini berasal dari Desa Kepau Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. Di Desa Kepau Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar mempunyai 4 (empat) larangan perkawinan yaitu: larangan perkawinan sesuku, larangan perkawinan dunsanak bapak, larangan perkawinan sesusuan, dan larangan perkawinan pegiton. Tetapi yang lebih serius dari sekian larangan perkawinan ialah larangan perkawinan pegiton, karena menentang sumpah para leluhur, serta bagi pelaku dipercaya akan mendapatkan musibah atau bala, dan dikenai sanksi adat berupa dikucilkan oleh adat dan sanksi sosial berupa dikucilkan oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan masyarakat serta pandangan hukum Islam mengenai larangan perkawinan pegiton di Desa Kepau Jaya Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), metode pengumpulan data dalam peneltian ini adalah metode observasi, wawancara, dan ditambah dengan dokumen-dokumen dan buku-buku yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Setelah data terkumpul penulis melakukan analisis data dengan metode penulisan deduktif dan deskriptif. Adapun populasi dalam peneltian ini sebanyak 9 orang, yang terdiri dari 2 orang tokoh adat, sepasang suami isteri yang menjadi pelaku larangan perkawinan pegiton berjumlah 2 orang, dan 5 orang masyarakat Desa Kepau Jaya yang dimintai pandangannya, dengan demikian penulis menggunakan teknik total sampling. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa masyarakat Desa Kepau Jaya menyetujui adat larangan perkawinan pegiton, mereka beranggapan bahwa larangan perkawinan pegiton ini sakral, karena merupakan sumpah dari leluhur terdahulu. Menurut tinjauan hukum Islam, larangan perkawinan pegiton ini bertentangan dengan syara’, karena tidak ada nash yang mengatakan bahwasanya larangan perkawinan seperti perkawinan pegiton ini dilarang atau diharamkan, mereka yang ingin melakukan perkawinan pun bukanlah mahram. Adapun, sumpah yang dilakukan oleh para leluhur tidak sesuai dengan ketentuan Islam, yang mana sumpah ialah harus dengan menyebutkan nama Allah, selain dengan menyebutkan nama Allah hukumnya ialah haram karena sama saja dengan menyekutukan Allah SWT.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.577 Perkawinan Menurut Islam, Pernikahan Menurut Islam, Munakahat
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: fasih -
Date Deposited: 15 Jan 2020 07:26
Last Modified: 15 Jan 2020 07:27
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/24884

Actions (login required)

View Item View Item