KEPALA NEGARA NON MUSLIM MENURUT IBNU TAIMIYYAH (661-728H )

ISNEN AZHAR, - (2019) KEPALA NEGARA NON MUSLIM MENURUT IBNU TAIMIYYAH (661-728H ). Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img] Text
ISNEN AZHAR OK.pdf

Download (3MB)
[img] Text (BAB IV)
16. BAB IV ISNEN AZHAR OK.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only

Download (709kB)

Abstract

Isnen Azhar: 2019 “Kepala Negara Non Muslim Menurut Ibnu Taimiyyah” Masalah kepemimpinan bukan hanya persoalan duniawi, akan tetapi juga persoalan ukhrawi yang mana manusia itu akan dimintai pertanggung-jawabannya dihadapan Allah Subhânahu Wa-Ta’âlâ pada hari kiamat kelak, oleh karena itu urgensi seorang pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya, bahkan dalam sebuah komunitas kecil masyarakat seperti dalam sebuah perjalanan, maka Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengintruksikan agar diangkat seorang pemimpin. Jenis penelitian adalah bersifat kepustakaan (library research ). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah normatif. Penelitian ini bersifat deskriftif, analitif, kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan atau observasi literatur yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan yang dibahas. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah al-Siyâsah al-Syar’iyyah fi Islâhi al-Râ’î wa al-Ra’iyyah karya Ibnu Taimiyyah, Al-Hisbah karya Ibnu Taimiyyah, Iqtidhô Shirôthô al-Mustaqîm Li-Mukhôlafati Ashâbi al-Jahîm karya Ibnu Taimiyyah, Sedangkan data sekundarnya adalah referensi yang memiliki kolerasi dan relevansi dengan judul penelitian Sebagai hasil penelitaian dalam masalah urgensi kepemimpinan dalam masyarakat Islam, maka penulis menjelaskan pandangan Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah membuat persyaratan yang ketat bagi seorang calon pemimpin dengan karakter sebagai berikut : (1). al-Muslim (2). al-Qowiy (3). al-Amin (4). al-Adl (5). al-Khasyyah, Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menjadikan syarat yang paling mendasar pada diri seorang calon pemimpin itu adalah dia wajib seorang “muslim yang hanif”, Ibnu Taimiyyah rahimahullah tidak pernah memberikan peluang dan ruang sedikitpun kepada Non Muslim untuk bisa menjadi pemimpin di tengah mayoritas Islam, diantara bentuk penolakannya terhadap kepemimpinan Non Muslim di tengah mayoritas Islam adalah tulisan beliau yang sangat terang dan jelas tentang hal itu diantaranya : (رﺎﻔﻜﻟا ةﻻاﻮﻣ ﻦﻋ ﻲﮭﻨﻟا )“larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin” dan beliau rahimahullah mengungkapkan dalam tulisannya : ( ى َرﺎ َﺼﱠﻨﻟا َو ِدﻮ ُﮭَﯿﻟا ِةَﻻا َﻮ ُﻣ ْﻦ َﻋ َﻦﯿِﻨ ِﻣ ْﺆ ُﻤﻟا ﻰَﻟﺎَﻌ َﺗ ُﷲ ﻰ َﮭ ْﻨَﯾ )“Allah melarang rrang-orang beriman untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin”. Tentang permasalahan ini penulis telah menukilkan penolakkanpenolakkan beliau rahimahullah terhadap kepemimpinan Non Muslim di tengah mayoritas Islam dalam 17 poin pada bagian terakhir dalam bab IV.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 300 Ilmu Sosial > 340 Ilmu Hukum
Divisions: Program Pascasarjana > S2 > Hukum Keluarga
Depositing User: pps -
Date Deposited: 10 Dec 2019 03:31
Last Modified: 10 Dec 2019 03:34
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/23123

Actions (login required)

View Item View Item