MAKNA FI SABILILLAH DALAM AL-QUR’AN (Suatu Kajian Tafsir Maudhu’iy)

Jamalia Idrus, (2011) MAKNA FI SABILILLAH DALAM AL-QUR’AN (Suatu Kajian Tafsir Maudhu’iy). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201137.pdf

Download (754kB) | Preview

Abstract

Tulisan ini berjudul: Makna Fi Sabilillah Dalam al-Qur’an (Suatu Kajian Tafsir Maudhu’iy). Alasan penulis memiiih judul ini yaitu adanya keraguan tentang makna fi sabilillah yang terdapat pada surat at-Taubah ayat 60, keraguan itu berawal dari perbedaan pandangan para mufassir dalam memaknai kata fi sabilillah tersebut. Dimana pada saat ini, sebagian besar umat Islam telah menenal kata fi sabilillah, akan tetapi temelihat fenomena di masyarakat terjadi keraguan di antara mereka. Di samping itu, banyak juga yang belum sepenuhnya dapat memahami kata fi sabilillah yang terdapat pada surat at-Taubah ayat 60 tesebut, sehingga sering terjadi perdebatan dan perselisihan pendapat di antara mereka. Ada dua pokok yang dibahas dalam tulisan ini. Pertama, apa makna kata fi sabilillah dalam al-Qur’an menurut mufassirin? Kedua, Bagaimana pandangan ulama zaman sekarang tentang fi sabilillah pada surat at-Taubah ayat 60? Penelitian pada skripsi ini berusaha menggali makna fi sabilillah langsung dari sumbernya, yaitu al-Qur’anul al-Karim. penulis berusaha menggali makna yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung kata-kata fi sabilillah di dalamnya, dengan harapan makna yang dapat dipetik benar-benar tepat dan akurat. Dengan tujuan (1) Untuk mengetahui penafsiran kata fi sabilillah dalam al-Qur’an di kalangan mufassirin sehingga dapat mengetahui secara jelas makna fi sabilillah dalam al-Qur’an (2) Untuk mengetahui karakteristik fi sabilillah pada surat at Taubah ayat 60 menurut ulama zaman sekarang sesuai dengan al-Qur’an dan hadits yang merupakan petunjuk dan membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia hingga akhir zaman. Adapun penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library Reseach). Yang menggunakan metode Tafsir Maudhu’iy, dengan mengikuti langkah-langkah yang telah ditentukan yakni sebagai berikut: (a) menetapkan permasalahan yang akan dikaji, dalam hal ini adalah makna fi sabilillah. (b) Melacak dan menghimpun ayat ayat yang berkaitan dengan kajian ini, dalam hal ini penulis menggunakan Mujjam al Mufahras li al-Fadz al-Qur’an karya Muhammad Fa’ad Abdl Baqi. (c) Menyusun ayat-ayat tersebut secara berurutan, di sertai pengetahuan mengenai latar belakang turunnya atau asbabunnuzul dan munasabah ayat serta melengkapi pembahasan dan uraian tersebut dengan hadis, bila dipandang perlu. (d) Melakukan studi analisa terhadap objek penelitian dengan menggunakan segenap informasi dari para mufassir, ulama, dan pakar yang dapat mempertajam analisa (e) Selanjutnya diambil kesimpulan yang menjadi buah atau hasil penelitian. Hasil penelitian yang penulis peroleh menunjukan bahwa: pengertian kata fi sabilillah dapat di bagi menjadi dua katagori yakni pengertian secara sempit dan secara luas. Adapun kata fi sabilillah dalam ayat-ayat al-Qur’an menurut mufassirin makananya adalah hanya jihad atau perang di jalan Allah, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Akan tetapi terjadi perbedaan pendapat di kalangan mufassirin mengenai definisi "fi sabilillah" dalam surat at-Taubah ayat 60, yakni ayat tentang asnaf yang berhak menerima zakat. Ibnu Katsir dan ada juga kalangan mufassir lainnya mendefinisikan fi sabilillah dalam arti sempit yaitu hanya "jihad" atau khusus diartikan para pejuang yang terlibat dalam peperangan baik keterlibatannya langsung maupun tidak dengan tujuan untuk menolong agama Allah Swt. memerangi musuh-Nya, dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Sedangkan al-Maraghi dan Buya Hamka serta ada juga mufassir lainnya, memaknai fi sabilillah bersifat meluas atau umum, yaitu meliputi semua jenis kebaikan, ketaatan, dan memasukkan semua kegiatan sosial. Adapun ulama zaman sekarang berpendapat bahwa jihad atau perang fi sabilillah merupakan sarana kebaikan yang jelas yang dapat mengantarkan kepada keridhaan Allah. Melihat perkembangan sosial masyarakat zaman sekarang, Jihad atau perang fi sabilillah yang dimaksud di sini perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat pada zaman sekarang yang mencakup jenis jihad yang diterangkan oleh al-Qur’an dan Hadis, yang tidak terbatas pada jihad dengan kekuatan fisik bala tentara saja, akan tetapi jihad menggunakan harta dan akal pikiran serta lisan. Sebagaimana dijelaskan oleh mufassir pada ayat-ayat fi sabilillah lainnya. Akan tetapi makna jihad ini harus senantiasa mengacu pada tujuan syara’ dan dilandasi roh jihad dengan syarat hendaknya jihad fi sabilillah itu jihad yang benar, sesuai ajaran Islam yang benar, tidak dicampuri unsur-unsur kesukuan dan kebangsaan, dan tidak pula Islamnya dicampuri dengan faham Barat atau Timur atau untuk membela mazhab, sistem, kedudukan atau untuk membela pribadi. Adapun pendapat yang cukup relevan menurut penulis yakni tetap mempertahankan pendapat mufassirin yang mempersempit makna fi sabilillah dengan mengatakan bahwa makna tersebut hanya untuk kepentingan jihad atau perang membela agama Allah dan hal-hal yang berkaitan dengannya Sehingga dengan jalan itu pendapat mufassir yang mempersempit makana fi sabilillah tetap dapat dipertahankan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 29 Dec 2015 04:18
Last Modified: 29 Dec 2015 04:18
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/226

Actions (login required)

View Item View Item