KEADILAN DALAM PELAKSANAAN POLIGAMI DI KELANTAN DITINJAU DARI PERSPERKTIF AL-QURAN

FATIMAH AZZAHRAH BINTI SMAIL, (2017) KEADILAN DALAM PELAKSANAAN POLIGAMI DI KELANTAN DITINJAU DARI PERSPERKTIF AL-QURAN. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
1. COVER (1).pdf

Download (353kB) | Preview
[img]
Preview
Text
2. PENGESAHAN (1).pdf

Download (643kB) | Preview
[img]
Preview
Text
3. ABSTRAK (1).pdf

Download (414kB) | Preview
[img]
Preview
Text
4. KATA PENGANTAR (1).pdf

Download (369kB) | Preview
[img]
Preview
Text
5. DAFTAR ISI (1).pdf

Download (329kB) | Preview
[img]
Preview
Text
6. BAB I (1).pdf

Download (744kB) | Preview
[img]
Preview
Text
7. BAB II (1).pdf

Download (719kB) | Preview
[img] Text
8. BAB III (1).pdf
Restricted to Repository staff only

Download (585kB)
[img]
Preview
Text
9. BAB IV (1).pdf

Download (729kB) | Preview
[img]
Preview
Text
10 BAB V (1).pdf

Download (451kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (470kB) | Preview

Abstract

Skripsi ini berjudul KEADILAN DALAM PELAKSAAN POLIGAMI DI KELANTAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF ALQURAN. Poligami merupakan salah satu fenomena yang ada dalam pernikahan. Kata poligami secara etimologi berasal dari bahsa Yunani, dari kata poli atau polus yang artinya banyak dan gamein atau gamos yang berarti perkawinan dan ta’adzudz al-zaujah dalam hukum Islam; yang berarti beristeri lebih dari seorang wanita. Bila kata ini digabungkan (polus dan gamos), maka poligami akan berarti pernikahan banyak, dan bisa jadi dalam jumlah yang tidak terbatas. Poligami dalam islam mempunyai arti pernikahan yang lebih dari satu, dengan batasan, umumnya dibolehkan hanya sampai empat wanita. Walaupun ada juga yang memahami ayat tentang poligami dengan batasan lebih dari empat atau bahkan lebih dari sembilan isteri. Islam membolehkan poligami dengan syarat jika suami dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya itu akan tetapi, apabila dia tidak bisa berlaku adil, maka tidak boleh memiliki istri lebih dari satu seperti di dlaam firman Allah QS An-Nisa ayat 3. Adapun yang dimaksudkan dengan adil di sini, seperti yang telah di singgung dalam makna mufradat, adalah keadilan dalam memberi nafkah yang sesuai dengan keadaan masing-masing, dan pembagian waktu buat mereka. Adapun perasan hati, yang terkadang lebih menyayangi yang satu dari yang lain, tidaklah mengapa selama tidak di wujudkan dalam tindakan atau perbuatan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS AnNisa ayat 129. Penelitian ini didasarkan pada dua rumusan masalah yaitu: Apakah makna keadilan dalam berpoligami menurut Al-Quran? Bagaimanakah perlaksanaan poligami di Kelantan di tinjau dari perspektif Al-Quran? Setelah melakukan penelitian ini, penulis berkesimpulan bahwa secara keseluruhannya masyarakat yang berpoligami tidak menolak hukum poligami dan mereka menerima sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran. Ada beberapa responden yang coba mempraktekkan poligami sebaiknya dengan memahami Al-Quran yang terkandung didalamnya ajaran yang baik dan memandang bahwa di dalam berpoligami adil itu akan terlaksana bila setiap pasangan saling memahami diantara satu dan yang lain. Namun berbeda dengan yang lain, penulis melihat keadilan masih tidak terlaksana dengan sebaiknya apabila tidak adanya kesepakatan yang disenangi oleh semua pihak dan pensyaratan serta perlaksanaannya banyak menimbulkan permasalahan dalam poligami. Penelitian yang dibuat membuktikan bahwa masyarakat yang berpoligami dan yang dipoligami gagal mempraktekkan adil yang dituntut oleh Allah SWT apabila pensyaratan dan perlaksanaan setengah dari responden hanya mengikut kata hati sendiri dan melukai banyak pihak. Sebab inilah yang menjadi faktor perbedaan dalam hal pandangan diantara masyarakat Kelantan. Oleh itu walau apa pun bentuk perkahwinan samada monogami mahupun poligami, maka seseorang yang bergelar ketua keluarga itu mestilah memastikan supaya rumahtangganya di penuhi dengan unsur-unsur yang telah ditetapkan oleh Al-Quran Surah AI-Rum ayat 3, Surah Al-Nisa' ayat 19, Surah Al-Baqarah ayat 237 dan Surah Al-Nur ayat 32. Nescaya perkahwinan monogami mahupun poligami tidak akan berlaku kezaliman dan penyelewengan dalam Institusi Kekeluargaan Islam. iii ABSTRACT

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Alqur'an dan Tafsir
Depositing User: Mr. Supliadi
Date Deposited: 26 Sep 2019 12:53
Last Modified: 26 Sep 2019 12:53
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/20787

Actions (login required)

View Item View Item