KONSEP KAFARAT SUMPAH MENURUT IBN HAZM STUDI ANALISIS PENYALURAN KAFARAT SUMPAH KEPADA AHL Al-DZIMMAH (NON-MUSLIM) DITINJAU DARI MAQÂSHID Al-SYARΑAH

Muhammad Diah, (2011) KONSEP KAFARAT SUMPAH MENURUT IBN HAZM STUDI ANALISIS PENYALURAN KAFARAT SUMPAH KEPADA AHL Al-DZIMMAH (NON-MUSLIM) DITINJAU DARI MAQÂSHID Al-SYARΑAH. Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201160.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

Jumhur ulama sepakat bahwa kafarat atas pelanggaran sumpah merupakan suatu kewajiban yang disyari‘atkan oleh Islam, sebagaimana difirmankan Allah Swt. dalam al Qur’an surat al-Ma’idah ayat 89, yaitu memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian, atau memerdekakan budak. Jika tidak sanggup melaksanakan kafarat tersebut, si pelanggar sumpah harus berpuasa selama tiga hari. Dalam hal penyalurannya, jumhur ulama tidak membolehkan pemberian kafarat sumpah kepada ahl al-dzimmah (non muslim). Ibn Hazm dalam kapasitasnya sebagai seorang mujtahid membolehkan penyaluran kafarat sumpah kepada ahl al-dzimmah dan memerdekakan budak ahl al dzimmah (non-muslim). Ibn Hazm adalah seorang ahli fiqih yang menghidupkan ilmu zhahir atau dengan kata lain, ia menghidupkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Dia menjelaskan sifat umum dan keuniversalan al-Qur’an, yang mencakup seluruh hukum dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada manusia, walaupun waktu berubah-rubah. Gambaran di atas menunjukkan latar belakang keilmuan Ibn Hazm yang cukup representatif sebagai seorang mujtahid. Oleh karena itu, keberanian Ibn Hazm untuk berbeda sikap dari opini umum jumhur ulama tidak bisa diabaikan. Kiranya ia memiliki pijakan metodologi yang kuat saat memutuskan beramal dengan keumuman teks ayat. Pemikiran Ibn Hazm tentang kebolehan penyaluran kafarat sumpah kepada ahl al-dzimmah, apabila ditinjau dari Maqâshid al-syarî‘ah menarik untuk diteliti, karena Ibn Hazm sangat terikat dengan teks. Dalam melakukan penelitian, penulis menfokuskan pada kajian tokoh, yaitu Ibn Hazm, yaitu dengan menyajikan data-data, kemudian mengambil kesimpulan secara analisis (content analisys) yaitu menggali isi dan aksioma yang terdapat dalam teks-teks dari data-data yang telah dikumpulkan. Ibn Hazm membolehkan memerdekakan budak ahl al-dzimmah (non-muslim) sebagai kafarat sumpah dan juga pemberian makanan atau pakaian kepada ahl al dzimmah (non-muslim). Ibn Hazm menyatakan pada masalah penyaluran kafarat sumpah tidak ada nash khusus yang menganjurkan memberikannya kepada orang yang beriman. Demikian juga dengan Abu Hanifah r.a., ia tidak mensyaratkan budak yang beriman sebagai sasaran kafarat sumpah. Ijtihad Ibn Hazm tentang kebolehan memberikan kafarat sumpah terhadap ahl al dzimmah (non-muslim) bila dilihat dari maqâshid al-syarî‘ah mengandung unsur dakwah Islam (hifhz al-din), karena terdapat kemaslahatan yang lebih besar, maka memberikan kafarat sumpah kepada ahl al-dzimmah (non-muslim) dapat saja dilakukan. Dari sisi sosial kemasyarakatan (hifzh al-mujtama’ atau hifzh al-insan) orang Islam dibenarkan saling mengenal, membantu, bahkan menjamin kesejahteraan sosial, tanpa memandang muslim atau non-muslim. Kewajiban jama‘i (negara Islam) juga meliputi kewajiban masyarakat muslim. Mayarakat muslim dan non-muslim mempunyai kewajiban yang sama untuk saling menjaga, baik dengan jiwa maupun dengan hartanya. Menjaga dengan jiwa adalah kewajiban membela ahl al-dzimmah dari serangan musuh yang menzaliminya, sedangkan menjaga dengan harta seperti terlihat dari kebolehan membayar kafarat sumpah kepada ahl al-dzimmah (non-muslim) seperti yang dikemukakan oleh Ibn Hazm.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.1 Sumber-sumber Agama Islam, Kitab Suci Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Program Pascasarjana > S2
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 26 Dec 2015 07:57
Last Modified: 26 Dec 2015 07:57
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/190

Actions (login required)

View Item View Item