ILMU LADUNNI DALAM PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI AL-GHAZALI

Sukur, (2011) ILMU LADUNNI DALAM PERSPEKTIF EPISTEMOLOGI AL-GHAZALI. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201133.pdf

Download (434kB) | Preview

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi bahwa kacaunya kondisi sosial politik pada masa Al Ghazali dan berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan. Sehingga tak layak lagi, kemunduran Islam benar-benar tak terelakkan. Di bidang pendidikan dan kejiwaan, umat mengalami kemiskinan intelektual, spiritual dan moral. Disorientasi kehidupan dari sisi dunia akhirat menjadi orientasi keduniawian telah terjadi. Bidang-bidang intelektual dan agama yang sebenarnya dituntut pengalaman dan penghayatan hanya dimanfaatkan untuk mencari popularitas dan jabatan. Akhirnya pun pengembangan keagamaan tidak pernah sama sekali ditingkatkan. Yang ada justru kelompok-kelompok pemikiran yang masing masing mengklaim dirinya paling benar. Konsekwensinya khalayak muslim mengalami kebingungan intelektual. Dengan demikian Ghazali dengan semangat yang membara terpacu untuk melaksanakan misi-misinya, yang paling tidak terdapat dua misi utama. Pertama, membangun dunia intelektualisme Muslim yang semakin jauh dari kebenaran. Kaum Muslim yang saat itu terbagi menjadi empat golongan yakni kaum teolog yang mengandalkan kekuatan akal dibantu dengan wahyu, filosof yang mengandalkan kekuatan akal saja, ahli kebatinan (penganut Syi’ah Bathiniyah) yang sangat memuja muja Imam mereka, serta kaum sufi yang hanya mengandalkan kekuatan intuisi. Keempat golongan tersebut masing-masing sangat eksklusif. Mereka masing-masing menganggap bahwa bidangnyalah yang paling benar tanpa perlu campur tangan bidang lain. Karena itu al-Ghazali yang sejak kecil bergelut dengan ilmu berupaya menyatukan pemikiran-pemikiran tersebut dengan tetap mempertimbangkan bidang lain. Artinya, konsep pemikiran al-Ghazali tersebut mempertimbangkan akal (andalan filosof dan teolog) serta amal namun tetap dengan tujuan seperti halnya sufi. Misi kedua, melayani serangan intelektual barat. Para filosof yang hanya mengandalkan kekuatan akal seringkali menyerang agama yang dianggap tidak rasional dan tipuan saja. Serangan-serangan inteletual barat yang nampak rasional dan logis seringkali mempengaruhi iman kaum muslimin, sehingga tiada jalan lain bagi Ghazali untuk mengembalikan kepercayaan kaum muslim dengan berperang dengan cara mereka (kaum filosof), yakni menggunakan akal dan logika yang matang. Semangat al-Ghazali mewujudkan misi-misinya menjadikan beliau tidak segan segan belajar banyak hal. Baik bidang-bidang keagamaan ataupun bidang lain termasuk filsafat yang selalu dipuja-puja kaum Barat..

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 300 Ilmu Sosial > 350 Administrasi Negara, Ilmu Kemiliteran
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Aqidah
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 26 Dec 2015 07:02
Last Modified: 26 Dec 2015 07:02
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/169

Actions (login required)

View Item View Item