KONSEP PEMBINAAN MORAL (Studi Komparatif Antara Al-Ghazali dengan Lawrence Kohlberg)

Suhaidi, (2011) KONSEP PEMBINAAN MORAL (Studi Komparatif Antara Al-Ghazali dengan Lawrence Kohlberg). Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201159.pdf

Download (731kB) | Preview

Abstract

Carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara tergambar jelas dalam media massa. Mulai dari pembunuhan nan sadis, pemerkosaan yang menjijikkan, korupsi yang memualkan nurani, tingkah pola para-politisi yang telah merobek robek hati rakyat. Rakyat yang tengah didera kelaparan dan dihimpit kemiskinan dipertontotkan kerakusan “hewan-hewan politik” untuk menaikkan tunjangan dan tetek-bengek lainnya. Aroma busuk begitu menyengat membangunkan kesadaran kemanusiaan yang masih memiliki hati nurani. Salah satu penjelasan penyebab seluruh masalah tersebut adalah: buruknya pendidikan moral. Sebagian orang tua beranggapan bahwa jika anaknya telah diserahkan di sekolah dan membayar biaya mahal, maka seluruh tanggungjawab dan kewajiban orangtua telah gugur. Ini keliru !!! sebab sekolah sekolah tidak menempatkan moralitas sebagai orientasi edukasinya. Logika kapitalistik dan komersialistik yang tertanam dalam benak lembaga-lembaga pendidikan telah menciptakan anak-didik sebagai konsumen dan objek pengerukan keuntungan. Sebagai benteng dan filterisir “virus-virus” tersebut dibutuhkan pendidikan moral. Pembinaan moral merupakan suatu usaha untuk mencapai suatu cita-cita yang luhur, oleh karena itu memiliki dasar dan tujuan pembinaan tersendiri. Dalam pembinaan moral tentunya banyak sekali tuntutan yang menjadi dasar hukum seseorang agar selalu melaksanakan pembinaan moral dalam rangka ikut membentuk dan mewujudkan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur atau berakhlak mulia. Kohlberg beranggapan bahwa prinsip moral merupakan alasan untuk suatu tindakan, sesuai dengan teori perkembangan kognitif yang dianutnya, ialah memandang penalaran moral sebagai struktur, bukan isi (contens). Jadi penalaran moral bukannya apa yang baik atau buruk, melainkan bagaimana seseorang sampai pada keputusan bahwa sesuatu itu baik atau buruk. Hal ini berarti bahwa penalaran moral merupakan suatu alasan atau pertimbangan, mengapa sesuatu dianggap baik atau buruk. Kohlberg menjadi tokoh populer dalam disiplin ilmiyah teristimewa dikalangan para pendidik. Secara psikologis dan filosofis, Kohlberg berhasil menggariskan peralihan dari moralitas konvensional ke moralitas nonkonvensional yang berdasarkan prinsip universal. Kohlberg menjadi peneliti sejati yang pertama terhadap proses perkembangan moral dan dihormati sebagai seorang ilmuwan yang sangat berdisiplin, sehingga ia mengunggungguli semua orang dimasanya yang giat dalam bidang teori dan praksis psikologi pendidikan, khususnya dalam bidang kajian moral. Teori Kohlberg dikritik karena memberi terlalu banyak penekanan pada penalaran moral dan kurang memberi penekanan pada perilaku moral. Penalaran moral kadang-kadang dapat menjadi tempat perlindungan bagi perilaku immoral.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 300 Ilmu Sosial > 370 Pendidikan
Divisions: Program Pascasarjana > S2
Depositing User: eva sartika
Date Deposited: 22 Jan 2016 08:54
Last Modified: 22 Jan 2016 08:54
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/1496

Actions (login required)

View Item View Item