KONSEP PLURALISME ABDURRAHMAN WAHID DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

HM. Yunaidi, (2011) KONSEP PLURALISME ABDURRAHMAN WAHID DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM. Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201191.pdf

Download (484kB) | Preview

Abstract

Pendidikan merupakan agen perubahan kebudayaan ( cultural broker ) bagi masyarakat. P endidikan Islam ( islamic education /tarbiyah islamiyah) pada saat ini, m endapat sorotan tajam yang kurang menggembirakan dan dinilai menyandang “keterbelakangan”, semuanya bermuara pada kelemahan yang dialaminya. Kelemahan pendidikan Islam dilihat justru terjadi pada sektor utama, yaitu pada konsep, sistem, dan kurikulumnya, d iangap kurang relevan dengan kemajuan peradaban umat manusia dewasa ini atau tidak mampu menyertakan disiplin - disiplin ilmu lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. M au atau tidak , pendidikan Islam harus melakukan pembenahan. Hal ini merupakan tugas berat, di satu sisi kehidupan modern menuntut kemampuan intelektual untuk merespon secara positif dan kreatif terhadap perubahan - perubahan yang terjadi tanpa harus melepaskan diri dari substansi dan prinsip - prinsip universal agama. Pluralitas masyarakat In donesia, di sisi lain, juga menuntut sikap keberagamaan yang inklusif dan toleran. Abdurrahman Wahid (1940 - 2009 M) , akrab disapa dengan panggilan Gus Dur, terpilih sebagai Presiden RI ke - empat, s alah satu tokoh yang peduli akan tegaknya pluralisme masyara kat , bukan hanya terletak pada suatu pola hidup berdampingan secara damai, penghargaan terhadap pluralisme berarti adanya kesadaran untuk saling mengenal dan berdialog secara tulus sehingga kelompok yang satu dengan yang lain memberi dan menerima ( take and give ) serta bagaimana Islam memandang Islam, ummah, jamâ’ah, ra’iyah, imâ mah, ukhuwah dan seterusnya. Abdurrahman Wahid mencoba tidak hanya menggunakan hasil pemikiran Islam tradisional namun lebih pada penggunaan metodologi hukum ( ushû l al - fiqh ) dan kaid ah - kaidah hukum ( qaw â id fiqhiyah ) serta pemikiran kesarjanaan Barat dalam kerangka sintesis dengan pemikiran Islam ( Islamic thought ) yang melansir, menyiarkan, membersitkan serta mengkhabarkan yang pada akhirnya dapat melahirkan gagasan baru sebagai upaya menj awab perubahan - perubahan aktual. Karena itu penulis tertarik untuk meneliti dengan judul “KONSEP PLURALISME ABDURRAHMAN WAHID DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM”. Dengan rumusan masalah 1. A pa konsep pluralisme menurut Abdurrahman Wahid? 2. Bagaiamana k onsep pluralisme Abdurrahman Wahid dalam prespektif pendidikan Islam ? Data yang dikumpulkan dalam p enelitian ini diambil melalui dokumen ( literatur ) dengan pendekatan filosofis dan historis. Maka penelitian ini jenis penelitian dengan Library Research ( penelitian pustaka ) yang bersifat kualitatif. Sumber d ata primer, skunder dan teoritis . Setel ah data terkumpul dianalisis dengan metode Content Analysis denga n menafsirkan teks atau analisis isi sebuah pemikiran Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa menurut Gus Dur dalam menghadapi pluralisme, sikap kritis harus tetap dilakukan guna memberikan masukan bagi perbaikan kehidupan. Ia tidak hanya menggunakan pemikiran Islam tradisional , tetapi keilmuan kesarjanaan Barat, keduanya saling melengkapi dalam ra ngka pemecahan masalah umat. Dengan demikian hukum Islam akan selalu dinamis dan dengan demikian tidak akan kehilangan relevansinya. Pluralisme dalam p endidikan menurutnya merupakan institusi dan media paling efektif dalam mengelola keragaman tersebut. Fu ngsi pendidikan tidak lain merupakan upaya transformasi nilai - nilai yang dimiliki suatu bangsa. Pluralisme pendidikan adalah u paya penanaman niali - n ilai kebangsaan dan kemanusiaan, tegas Gus Dur harus diupayakan baik di lingkungan keluarga, masyarakat mapu n lingkungan pendidikan. Pendidikan Islam ujar Gus Dur merupakan sub sistem pendidikan nasional yang cukup mempunyai andil besar dalam upaya transformasi nilai - nilai re ligiusitas kepada peserta didik. H al ini harus dimulai dari umat Islam, mengingat Islam sebagai agama mayoritas. Perubahan paradigma pendidikan Islam harus diupayakan . Hal ini dikarenakan paradigma yang selama ini dipakai ternyata lebih membentuk manusia yang egois, tertutup (eksklusif), intoleran, dan berorientasi pada kesalehan personal. Da lam menghadapi pluralitas masyarakat: multi etnik dan multi religi menurut Gus Dur dibutuhkan paradigma pendidikan yang toleran, inklusif dan berorientasi pada kesalehan sosial dengan tidak melupakan kesalehan individual. Cara belajar pun harus dirubah dar i metode ceramah menjadi problem solving , dari menghafal materi sebanyak - banyaknya menjadi penguasaan metodologi, dari mekanik menjadi organik, dari memandang ilmu sebagai hasil final menjadi memandang ilmu sebagai proses yang dinamis. Pendidik memandang a nak didik sebag a i pribadi otonom dengan segala potensi yang dimilikinya sehingga akan tercipta daya kreatifitas peserta didik

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.7 Perkembangan Islam
Divisions: Program Pascasarjana > S2
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 16 Jan 2016 05:42
Last Modified: 16 Jan 2016 05:42
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/1155

Actions (login required)

View Item View Item