PENDAPAT MUHAMMAD SHAHRUR TENTANG KEBOLEHAN POLIGAMI DENGAN JANDA TANPA MAHAR

Irianto, (2010) PENDAPAT MUHAMMAD SHAHRUR TENTANG KEBOLEHAN POLIGAMI DENGAN JANDA TANPA MAHAR. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2010_201044AH.pdf

Download (592kB) | Preview

Abstract

iv Poligami merupakan ikatan perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang sama. Laki-laki yang melakukan bentuk perkawinan seperti itu dikatakan bersifat poligami. Sedangkan mahar adalah pemberian dari calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita, baik berbentuk barang, uang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Yang menjadi pokok masalah, bagaimana pendapat Muhammad Shahrur tentang hukum mahar dalam poligami? Bagaimana istinbath hukum Muhammad Shahrur tentang kebolehan poligami dengan janda tanpa mahar? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pendekatannya menggunakan analisis yakni menggambarkan dan menganalisis pemikiran atau pendapat Muhammad Shahrur dalam konteksnya dengan kebolehan poligami dengan janda tanpa mahar. Data Primer, yaitu karya Muhammad Shahrur, Nahwa Usul Jadidah li al-Fiqh al-Islami, Terj. Sahiron Syamsuddin dan Burhanudin "Metodologi Fiqih Islam Kontemporer", Elsaq Press, Yogyakarta, 2004; Al-Kitab wa al- Qur'an: Qira'ah Mu'ashirah, Terj. Sahiron Syamsuddin dan Burhanudin, "Prinsip dan Dasar Hermeneutika al-Qur'an Kontemporer", Elsaq Press, Yogyakarta, 2004. Data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas. Teknik pengumpulan data berupa teknik library research. Analisis menggunakan data kualitatif. Di samping itu digunakan pula content analysis metode deduktif dan induktif. Hasil dari pembahasan: menurut Muhammad Shahrur sesungguhnya Allah Swt, tidak hanya sekedar memperbolehkan poligami, akan tetapi Dia sangat menganjurkannya, namun dengan dua syarat yang harus terpenuhi: Pertama, bahwa isteri kedua, ketiga dan keempat adalah para janda yang memiliki anak yatim; kedua, harus terdapat rasa khawatir tidak dapat berbuat adil kepada anakanak yatim, sehingga perintah poligami akan menjadi gugur ketika tidak terdapat dua syarat di atas. Dalam hubungannya dengan mahar, Muhammad Shahrur menyatakan: sebagai kemudahan dari Allah terhadap persoalan mengawini ibu dari anak-anak yatim tersebut, maka Dia memaafkan seorang laki-laki yang tidak memberikan maskawin dengan maksud mencari ridla Allah dengan mengawini mereka dan mengasuh anak-anak yatimnya. Pendapat Muhammad Shahrur di atas menunjukkan bahwa dalam pandangannya, mahar bukan suatu kewajiban yang harus dibayar dalam perkawinan poligami.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.577 Perkawinan Menurut Islam, Pernikahan Menurut Islam, Munakahat
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyah)
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 23 Aug 2017 04:34
Last Modified: 23 Aug 2017 04:34
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/10521

Actions (login required)

View Item View Item