MASTURBASI; HUKUM DAN PENGARUHNYA TERHADAP IBADAH PUASA MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL-SYAFI`I DAN IBN HAZM

Azli, (2011) MASTURBASI; HUKUM DAN PENGARUHNYA TERHADAP IBADAH PUASA MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL-SYAFI`I DAN IBN HAZM. Thesis thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Sarif Kasim Riau.

[img]
Preview
Text
2011_201184.pdf

Download (1MB) | Preview

Abstract

Tesis berjudul: MASTURBASI; HUKUM DAN PENGARUHNYA TERHADAP IBADAH PUASA MENURUT PERSPEKTIF IMAM AL-SYAFI`I DAN IBN HAZM, ditulis dengan latar belakang bahwa sistem norma dan nilai sangat berpengaruh terhadap pola pola berpikir generasi muda, sehingga kadangkala di kalangan remaja khususnya, dalam pergaulan mereka lebih banyak mencontoh budaya Barat. Dengan demikian akan berpengaruh pula baik dalam pola pikir maupun dalam tingkah laku. Daya berpikir merekapun terkontaminasi oleh tayangan-tayangan hiburan dari berbagai media yang ternyata lebih banyak bernuansa pornografi. Akibat maraknya tayangan pornografi, banyak remaja yang tak kuasa menahan nafsunya. Sebagian di antara mereka memilih istimna` (masturbasi). Mereka menganggap bahwa masturbasi itu lebih baik daripada zina. Tak heran jika perilaku ini kian menggejala di kalangan remaja. Perbuatan masturbasi tersebut di anggap sebagai salah satu cara bagi mereka untuk mengatasi/menghindari dari perbuatan zina secara langsung (berhubungan badan). Sehingga perbuatan seksual melalui masturbasi ini sering dilakukan secara rutin oleh kebanyakan pemuda. Dalam kaca mata agama, sebagian besar para ulama mengharamkan perbuatan masturbasi ini, seperti Imām asy-Syāfi’i. Perbuatan ini dinilai banyak mendatangkan mudarat dan sangat bertentangan dengan norma Islam yang memerintahkan agar umat Islam menjaga kehormatannya (kemaluannya) dan meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Tetapi Ibn Hazm justru membolehkan istimna` (masturbasi) tersebut. Kemudian dalam penelitian ini penulis membahas dua rumusan masalah: 1. Bagaimanakah hukum istimna` (masturbasi) dalam pandangan Imām al-Syāfi’i dan Ibn Hazm? 2. Bagaimana pengaruh istimna` (masturbasi) terhadap ibadah puasa menurut Imam al-Syafi`I dan Ibn Hazm? Untuk menjawab rumusan permasalahan tersebut, penelitian yang dilakukan penulis bersifat library research dengan menela`ah referensi-referensi yang berhubungan dengan obyek kajian penelitian ini. Data-data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan deskriptif-analitis-komparatif, yakni mendeskripsikan atau menguraikan data-data yang berkaitan dengan masturbasi dalam pandangan Imām al-Syāfi’i dan Ibn Hazm kemudian dianalisa guna mendapatkan kesimpulan. Sehingga dapat diketahui perbedaan dalil yang digunakan beserta alasannya mengenai hukum masturbasi dan pengaruhnya terhadap ibadah puasa menurut imam al-Syafi`I dan Ibn Hazm. Hasil akhir dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa berdasarkan QS. al Mukminun (23) ayat 5-7, menurut Imām al-Syāfi’i bahwa masturbasi hukumnya haram karena orang yang melakukannya (mustamni) melanggar etika seorang mukmin yang seharusnya menjaga kemaluannya (farj). Bahkan jika dilakukan dalam keadaan puasa, menurut imam al-Syafi`i puasa orang tersebut menjadi batal. Karena hal tersebut bertentangan dengan tujuan puasa untuk mengekang hawa nafsu. Di sisi lain justru Ibn Hazm membolehkan perbuatan masturbasi dengan alasan tidak ada dalil secara jelas mengharamkan perbuatan masturbasi, baik melalui al-Qur`an maupun hadits. Demikian juga dalam pelaksanaan ibadah puasa, orang yang melakukan masturbasi tidaklah menjadi batal puasanya.

Item Type: Thesis (Thesis)
Subjects: 200 Agama > 290 Agama Selain Kristen > 297 Islam > 297.5 Etika Islam, Praktik Keagamaan > 297.53 Puasa
Divisions: Program Pascasarjana > S2
Depositing User: Feni Marti Adhenova
Date Deposited: 15 Jan 2016 02:31
Last Modified: 15 Jan 2016 02:31
URI: http://repository.uin-suska.ac.id/id/eprint/1015

Actions (login required)

View Item View Item